Majlis Maiyah Telatah Demak

DARURAT SUNAH

Mukaddimah Maiyah Kalijagan edisi 1 November 2019

 

Kita memasuki bulan Maulud, bulan lahirnya Kanjeng Nabi. Tiap-tiap umat Islam memperingatinya. Hal itu berbeda dengan kita, yang diperingati ketika meninggalnya. Mengapa begitu? Sebab dalam proses hidup kita terkadang benar, terkadang salah. Terkadang baik, terkadang buruk. Dan kematian adalah hal yang menjadikan kita bisa dihitung—dalam kacamata manusia— sebagai orang baik atau buruk. Sementara Kanjeng Nabi Muhammad lahir, sudah dipastikan Allah sebagai manusia yang benar, baik dan indah.

Itulah sebabnya Kanjeng Nabi diperingati kelahirannya, kita diperingati kematiannya. Artinya, orang-orang terdahulu mengajari kita —dalam istilah popnya, ambil yang baik, tinggalkan yang buruk. Dan dari Kanjeng Nabi, kita diajari untuk belajar atas kebaikan-kebaikan. Kebaikan Kanjeng Nabi bisa kita temukan dalam perilaku dan kebiasaan sehari-harinya. Kemudian orang modern menganggapnya segala yang melekat pada beliau dianggap sebagai sunnah.

Lalu, muncul banyak kebiasaan menghitamkan jidad, memanjangkan jenggot, berpakaian gamis dan penampilan lainnya yang dilakukan oleh masyarakat modern. Sebagai wujud menjalankan sunnah nabi. Sampai sana, belum menjadi persoalan, yang menjadi persoalan ialah sunnah nabi yang paling tidak banyak dijalankan adalah meneladani akhlak mulia Beliau. Banyak yang berusaha meniru ‘hardware’, tapi tidak menanamkan ‘software’nya.

Kalau merujuk pada dawuh Mbah Nun, “Muhammad hanya dilihat sebagai Nabi Syariat, tidak Thariqat dan seterusnya”, sehingga hanya menjadikan kita ‘manusia kulit’. Kebaikan dan akhlak itu sesuatu yang di dalam kulit, rahasia dan tersembunyi. Namun peredaran dan pergerakannya dapat dirasakan seluruh yang tampak dari tubuh. Seperti darah yang mengalir di dalam tubuhmu, akan terlihat jika engkau menyayat kulitmun—minimalnya begitu. Itulah sebabnya kalau engkau belajar pada lembaga thariqah, yang diajarkan ialah kebaikan-kebaikan, akhlak mulia, yang tentu muaranya akan sampai pada Kanjeng Nabi.

Seperti halnya udara, akhlak dan kebaikan yang tak tampak jelas, jika tak ada kehadirannya mampu membuat sesak napas. Manusia tanpa akhlak tentu menjadikan sumpek dunia. Sebagaimana tatkala kita dikepung kebakaran hutan, kita merasakan kesumpekan, susah bernapas. Dan dari peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, ternyata kita sedang mengalami darurat dalam banyak hal. Khususnya darurat ketauladanan dari Kanjeng Nabi Muhammad.

Selain itu, akhir-akhir ini pula, kita sedang mengalami darurat pada hal sunah, jika dilakukan akan bermanfaat dan mendatangkan kebaikan. Begitulah orang modern, yang dikerangkeng dengan 3C, orang-orang yang semakin individual, orang-orang yang semakin kuat egosentrisnya, yang hanya punya keberanian tidak bertatap muka.

Hal itu jauh dari ilmu Maiyah, 5 jenis manusia yakni Manusia Wajib, Manusia Sunah, Manusia Mubah, Manusia Makruh dan Manusia Haram (Pengertian selanjutnya bisa panjenengan buka di caknun.com). Yang semoga kita menjadi manusia wajib, setidaknya manusia sunah, kalau pun tak bisa ya manusia mubah lah. Asalkan jangan sampai kita menjadi manusia makruh, apalagi manusia haram.

Maka dari itu, Maiyah Kalijagan edisi 1 November 2019, mengangkat tema Darurat Sunah, agar sinau kita tidak 3C. Sinau bareng kita bisa meluas, mendalam dan menep. Tentu tempatnya di Universitas Sultan Fatah dan waktunya pukul 20.00 WIB. Mari bersama-sama sinau, sholawatan bersama. Shollu ‘alan Naby Muhammad. [AN/ Redaksi Kalijagan.com]

Redaksi Kalijagan
Majlis Masyarakat Maiyah Kalijagan Demak adalah bagian dari Majlis Masyarakat Maiyah Nusantara.