Majlis Maiyah Telatah Demak

Menanam Sampai Tuhan Terharu

Apa beda tanaman dan bangunan? Dimana letak perbedaan antara menanam dan membangun?

Di dalam dunia manajemen ada tahapan-tahapan dalam melakukan kegiatan. Planning, kita merencanakan apa yang akan kita lakukan serta tujuan yang ingin dicapai. Organizing, merangkai bagian-bagian yang telah direncanakan dalam sebuah langkah teknis, siapa bertanggung jawab apa, dan bagaimana caranya. Actuating, melakukan eksekusi terhadap rencana dengan runtut sesuai langkah yang disusun. Controling, mengendalikan, mengawasi, memastikan semua berjalan sesuai yang diinginkan.

Apakah dalam kegiatan menanam diperlukan mekanisme manajemen? Pertanyaan yang sama apakah membangun juga berlaku rumus manajemen? Man proposed, God disposed. Benar bahwa kita tidak sepenuhnya bisa menjamin apa yang telah dikerjakan, bahkan dengan sudah melalui pola manajemen, usaha kita berhasil. Hasil, tentu saja tetap saja wilayah yang tak terjangkau.

Bisakah kita memberi semacam persentase campur tangan Tuhan dan usaha manusia dalam dua kegiatan yang kita bicarakan? Kalau menanam, kira kira tingkat keberhasilannya berapa proporsi Tuhan? Sedangkan kalau membangun berapa proporsi Tuhan.

Saat kita menanam, bahkan ketika kita sudah katakanlah 100 persen sesuai manajemen, kita tidak bisa memastikan tanaman yang tumbuh sesuai harapan. Berbeda jika kita membangun, sepanjang kita menjalankan designnya, mengawal eksekusinya, bangunan relatif akan sesuai gambar dan maketnya. Jadi, bolehlah kita mengatakan bahwa membangun adalah kegiatan yang lebih predictable daripada menanam. Apa pasalnya? Menanam berurusan dengan sesuatu yang hidup, yang punya “daya tumbuh”, sedangkan membangun adalah menata kepingan-kepingan yang terukur.

Pertanyaan selanjutnya adalah, yang selama ini kita lakukan di Kalijagan dan simpul, forum maiyahan lainnya, kategori menanam ataukah membangun ? Apakah jika selama 3 tahun tanaman yang telah disirami, dipupuk, dijaga tidak tumbuh lalu kita patut berhenti? Tidak meneruskan karena kita merasa kita gagal? menanam adalah dialektika kita dengan Yang Maha Menumbuhkan. Yang kita olah bukan batu bata, semen, pasir atau apa saja yang tidak punya daya apa apa. Yang setiap bulan berkumpul, di Kalijagan atau forum maiyahan lainnya adalah manusia-manusia yang mencari kesejatian dirinya untuk tumbuh, sebagaimana tanaman yang mengikuti cahaya sebagai arah perkembangannya.

Maka, satu-satunya cara untuk berhasil dalam menanam adalah keikhlasan, keasyikan dan bergembira. Manajemen modern mungkin bukan jawaban, kita terus mengistiqomahi apa yang telah kita mulai, sampai kemudian Tuhan terharu, memberikan fadhilah-fadhilah, hasil, buah atas kegembiraan kita dalam menanam.

Yang sedang kita lakukan adalah membangun “ruang tumbuh”, kita berupaya sebaik mungkin menciptakan cuaca, suasana, nuansa agar siapa saja yang ada dalam “ruang tumbuh” bisa menggeliat sesuai daya masing-masing.

Begitulah jannatul maiyah … Wallohu Alam.

Em. Ali Fathan
Penggiat Maiyah Gambang Syafaat dan Semak Tadabburan. Bekerja di Dinas Perpajakan Kudus.