Majlis Maiyah Telatah Demak

Organisme

Pernahkah anda melihat tentara berbaris? Berjalan dengan rapi, satu komando. Ada perintah yang jelas dari komandan kepada prajurit. Saat komandan bilang “Maju Jalan!”, maka seluruh pasukan akan kompak maju dengan derap langkah seirama. Jika saja komandan memerintahkan berjalan dari Semarang ke Yogya, melalui Magelang. Maka tidak akan ada pasukan yang berijtihad lewat jalur lain semisal melalui Boyolali. Itulah organisasi, di dalam organisasi ada garis perintah yang jelas, siapa jadi apa.

Berbeda dengan supporter sepakbola, anggap saja pendukung Timnas, siapa kira-kira yang bisa membuat ribuan orang berduyun-duyun melalui moda transportasi yang beraneka ragam, dengan jersey yang beraneka rupa, hadir di stadion saat tim kesayangannya berlaga. Apa karena PSSI membuat perintah? Jika ada pihak yang memerintah, tentu dia yang bertanggung jawab atas ongkos perjalanan dan logistiknya. Apakah suporter mendapatkan keuntungan saat menonton tim kesayangannya?

Bisakah kumpulan suporter dilabeli sebagai organisasi? Jika pun ada ketua suporter, kepada siapakah loyalitas para suporter? Apakah kepada ketua, atau koordinator? Seandainya koordinator atau ketua supporter tidak ada, tetapi tim kesayangan bertanding, kira-kira para supporter akan tetap bergerak ke stadion ataukah tidak? Dalam pandangan saya, mereka akan bergerak dengan atau tanpa ketua/koordinator, berduyun-duyun ke stadion. Mungkin, inilah bentuk sebuah organisme.

Organisasi menekankan pada tujuan organisasi, untuk mencapainya dibuatlah semacam ‘tata laksana’. Munculah struktur, hierarki dalam rangka memastikan target, tujuan organisasi terlaksana. Benar bahwa orang-orang yang bergabung memiliki satu tujuan, bagaikan membeli paket combo ayam di K** (kent*cky fr*ed chi*ken). Saat orang-orang yang tergabung dalam organisasi, mereka harus mengikuti semua persyaratan dan peraturan yang mengikatnya. Jika tidak, tinggalkan, keluarlah. Benar kan demikian?

Bandingkan dengan supporter, apakah ada pemecatan suporter tim nasional? Apakah jika anda mencintai tim nasional, tetapi tidak pernah ke stadion, hanya menonton melalui televisi sambil makan kuaci, tidak sah sebagai supporter? Apa syarat jadi supporter? Punya kartu anggota? Terdaftar di PSSI? Bukankah yang menggerakan anda mendukung tim sepakbola jagoan anda, bukan sesuatu yang remeh? Loyalitas tanpa batas katanya. Apa yang mendasarinya? Cinta? Terserah Anda menyebutnya apa.

Bagaimana dengan Maiyah? Mbah Nun selalu mengatakan bahwa Maiyah itu tidak penting,  “Aku iki tidak penting! Yang penting adalah anda semua semakin mencintai Rasulullah, semakin dekat Allah”. Di pelbagai kesempatan Mbah Nun selalu mengingatkan dirinya sendiri dan seluruh jamaah Maiyah bahwa seharusnya posisi ustadz, kiai, bahkan mursyid sekalipun, tidak berada di tengah-tengah antara hamba dan Allah. Posisinya hanyalah menunjukkan lalu mendorong, bukan menuntun.

Dengan suasana yang demikian, Maiyah seolah-olah tidak punya agenda/tujuan Maiyah sebagai entitas. Berkali-kali Mbah Nun mengatakan, “Saya dan Kiai Kanjeng berkeliling untuk memperbanyak orang orang yang mencintai Allah dan Rasulullah, menambah kekasihNya sehingga Allah mencintai kalian. Sebab dengan begitu Allah akan menjaga kalian. Sebab saya tidak bisa menjamin hidup kalian”. Maiyah tidak seperti barisan pasukan, Maiyah lebih mirip dengan kumpulan supporter. Maiyah tidak menamakan dirinya organisasi, Maiyah mencoba menjadi organisme.

Mungkin Mbah Nun memahami tidak semua jamaah Maiyah bisa mengikuti irama ‘model tentara’, sekaligus percaya bahwa jamaah Maiyah ‘dikomando’ akal warasnya, sehingga yang selalu didengungkan adalah “jadilah diri yang otentik, dan bergembiralah dalam kebaikan”.

Organisasi menciptakan pemimpin dan prajurit. Organisme melahirkan kepemimpinan dan pejuang. WaAllahu ‘alam.

Em. Ali Fathan
Penggiat Maiyah Gambang Syafaat dan Semak Tadabburan. Bekerja di Dinas Perpajakan Kudus.