Majlis Maiyah Telatah Demak

Kalijagan Adalah Perekat

Sugeng enjing sedulur-sedulur Kalijagan. Sapa pagi hari ini aku mulai dengan sebuah renungan; segala yang menghampiri kita baik itu yang kita anggap sebagai keberuntungan maupun yang kita anggap kerugian adalah dari Allah. Segala yang dari Allah harus kita syukuri.

Melanjutkan tentang amanah Mbah Nun untuk Kalijagan (mencari, menelusuri, menghimpun, menyebarkan, menyuburkan), dalam upaya mencari itu kiranya kita perlu membaca esai Mbah Nun berjudul “Empat Retakan Jiwa Bangsa” berikut linknya: https://www.caknun.com/2012/empat-retakan-jiwa-bangsa-nusantara/ Satu lagi yang perlu dibaca adalah naskah drama berjudul “Perahu Retak”.

Kira-kira bagini, peran Sunan Kalijaga dalam kisah Majapait, Demak, Pajang. Demak adalah sebagai perekat. Beliau sebagai sosok yang mampu mengkonsolidasi perpecahan majapahit untuk menjadi sesuatu bernama Demak.

Simbolisasi Kanjeng Sunan Kalijaga sebagai perekat juga tersirat dalam kisah saka guru Masjid Agung Demak yang kita kenal sebagai saka tatal. Dari serpihan-serpihan yang tersisa kemudian disatukan, diikat menjadi kuat dan bermakna.

Peran yang diambil Kanjeng Sunan Kali sebagai perekat juga tersirat dalam kisah orong-orong yang terpenggal lehernya kemudian disatukan lagi menggunakan serpihan kayu jati. Betapa pentingnya leher, akal di kepala akan ngawur jika tidak disertai hati di dada. Keterpenggalan itu disatukan oleh Kanjeng Sunan Kali.

Perekat adalah (mungkin) satu dari banyak nilai kalijagan. Sediakah kita menyebar-nyuburkannya?

Muhajir Arrosyid
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.