Majlis Maiyah Telatah Demak

Dua Tahun Kalijagan, Kita Tidak Membangun Berhala

Dulu ketika mau libur dengan alasan jadwal bareng CNKK di Kudus, Kang Nadhif memberi pendapat jika istqomah itu penting. Menurutnya forum ini bisa diibaratkan salat, jika kepepet pindah waktu, tapi salat tetap dilaksanakan.

Februari pada dua tahun lalu forum ini diselenggarakan dengan niat yang sederhana sekali, kita mau belajar bareng. Anda bisa membayangkan sinau bareng itu semacam belajar kelompok menyelesaikan PR dari guru kita. Jadi waktu itu sinau bareng atau belajar kelompok itu dihadiri oleh empat orang. Sambil merokok dan minum kopi sepanjang malam kami membincang dan mempelajari hidup kami masing-masing dan mencari jalan baik dan benar dalam menghadapi segala persoalan.

Secara kuantitas forum belajar kelompok Kalijagan bertambah. Ada pasang surutnya. Terutama saat musim hujan, orang-orang yang datang yang kemudian disebut jamaah menyusut.

Tidak jelas alasan orang-orang datang ke forum ini, bisa karena diikat oleh Mbah Nun. Kami ini mengaku sebagai murid-murid beliau. Ada yang datang karena Sunan Kalijaga, ada pula dituntun oleh Allah langsung. Forum ini saya lihat berkembang sebagai semacam terapi, orang-orang datang untuk curhat dan mengutarakan keluh-kesah kepada sedulurnya.

Dengan terpaksa forum ini pindah tempat beberapa kali dengan berbagai pertimbangan. Dari rumah ke rumah, ke stasiun, Masjid Agung Demak, hingga sekarang di Unisfat. Sebagaimana salat, kita boleh di mana saja asal di waktu yang tepat.

Dari mana dana penyelenggaraan forum ini? Beberapa orang pernah bertanya. Mereka mengira ada kekuatan yang meyangga forum semacam ini. Jawabannya dari GAF. Gusti Allah Foundation. Sound dapat harga sodakoh dari Sound Sinar Jaya sedulur dari Bomo, tempat mendapat kemurahan hati dari Unisfat, nasi bungkus sedekah dari Sedulur Komunitas Pecinta Berbagi, kopi dan lain-lain dari bantingan dan kotak muter. Cukup itu, tidak aneh-aneh. Kas tertumpul dari penjualan kaos.

Sebagai tempat belajar maka forum ini bagaikan tanah subur bagi benih-benih yang akan tumbuh. Ilmu yang tumbuh dan manusia-manusia yang juga tumbuh. Aku melihat pertumbuhan itu. Ada yang tumbuh sebagai desainer, penulis, editor, dll.

Pada saat menginjak usia ke dua tahun Kalijagan, hal yang perlu kami tanam dalam hati dan sungguh-sungguh, bahwa kami tidak hendak membangun berhala. Kalijagan bukanlah berhala, ia sekedar forum belajar untuk sinau tentang hidup dan orang-orang di dalamnya bergandengan tangan untuk saling mengingatkan ‘agar Allah ridha’ dan ‘Allah tidak marah, Allah bersama kita’.

Karena Kalijagan bukan berhala maka pertumbuhannya tidak membuat kami sombong dan takabur. Ini Allah yang buat, kami bersyukur atas pemberian Allah itu dan menjaganya. Sampai ketemu di Kalijagan Februari yang terlaksana pada 1 Feb 2019. Salam.

Muhajir Arrosyid
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.