Majlis Maiyah Telatah Demak

Mengabarkan Kepada Yang Jauh

Reportase Majlis Maiyah Kalijagan edisi Senin Kliwon, 20 Ramadlan 1439/ 4 Juni 2018 | Sinau Nulis: Kelas Reportase

 

Dalam acara Sinau Nulis Kelas Reportase (4/5) di Desa Bomo Wonosalam Demak terdapat dialog antara kang Ahyar, ketua Tanbihun, dengan Kang Hajir, yang menemani para peserta belajar menulis, pada malam selepas tarawih tersebut.

“Kang Ahyar, mengapa kiai Rifa’i menulis hingga puluhan kitab? Apakah ada ajaran beliau untuk menulis?” Yang dimaksud dengan kiai Rifai adalah seorang ulama abad 19 yang telah menulis dan menerjemahkan kitab-kitab tasawuf ke dalam bahasa Jawa menggunakan huruf arab pegon. Karyanya mencapai puluhan. Desa Bomo adalah basis jamaah Rifaiyah itu.

Kang Ahyar menjawab. “Iya ada. Kiai Rifai menganjurkan untuk menulis dan menerjemahkan. Pada orang yang belum bisa melakukan itu disuruh ikut atau belajar pada yang sudah mampu menerjemahkan. Kiai Rifai menggunakan menulis sebagai cara berjuangnya melawan penjajah. Penulis itu ideologis dan perjuangan nilai.”

“Bagaimana jika kiai Rifai tidak menulis?” pertanyaan berlanjut. Dan kang Ahyar menjawab. “Ya kita tidak akan memiliki kesempatan untuk mendapatkan ilmu darinya. Orang yang bisa menikmati hanya murid-murid yang hidup bersama beliau.”

Pertanyaan terakhir, “Bagaimana hukumnya seorang santri yang tidak meneladani gurunya?” Kang Ahyar tersenyum, dia misuh tipis-tipis. “Pelatihan menulis di sini baru pertama kali ini diselenggarakan. Setelah ini diharapkan remaja tanbihun akan menulis sebagaimana kiai Rifai.” jawab kang Ahyar.

Banyak motivasi seseorang tentang menulis. Satu orang dengan orang yang lain memiliki motivasi yang berbeda-beda. Ada yang motivasinya uang, terkenal, tetapi juga ada pertarungan nilai, perjuangan ideologis. Kang Hajir meminta para peserta memilih motivasnya sendiri.

Belajar dari kisah kiai Rifai yang penulis itu maka dapat disimpulkan bahwa menulis itu memanjangkan usia. Kiai Rifai hidup pada abad 19 dan kitab-kitabnya masih dibaca hingga sekarang. Pejuang-pejuang kita adalah penulis, kiai Hasyim, kiai Sholeh Darat, Diponegoro, semuanya adalah penulis. Berlanjut pada masa Gus Dur, Cak Nur, Cak Nun, Gus Mus, Ahmad Tohari adalah para santri pejuang yang menggunakan tulisan sebagai senjata.

Kang Priyo Wiharto pembicara dari Kudus menyatakan menulis adalah bercerita. “Pada dasarnya manusia itu suka bercerita dan menyimak cerita. Maka menulis adalah menyentuh hati dengan kisah.” kata Kang Priyo. Untuk mencapai tingkat menulis mahir seseorang harus berlatih dan membiasakan diri dalam menulis. Menulis harus menjadi bagian dari hidup. Selain itu kita harus membaca karya orang lain untuk memperkaya diksi dan pilihan kata.

Para peserta diberi waktu untuk praktik bercerita tentang sebuah peristiwa melalui tulisan. Ada pertanyaan dari kang Trimo, salah satu peserta. Apa bedanya antara reportase dengan curhat?

“Jika dalam sebuah peristiwa kamu sibuk menceritakan tentang dirimu itu namanya curhat tetapi jika kamu melaporkan peristiwanya untuk memenuhi kebutuhan pembacanya maka itu reportase. Curhat itu orientasnya diri si pencerita, jika reportase titik beratnya adalah pemenuhan informasi dan fakta bagi penerima info itu.” kata Kang Hajir.

Peserta selesai menulis dan membacakannya bergantian. Kang Priyo memeriksa ketepatan bahasa, menawarkan pilihan diksi, dan mempertanyakan maksud yang tidak jelas. Reportase masih kaku dan belum melihatkan emosi.

“Tulislah reportase sebagaimana Anda mengabarkan kegiatan ini kepada warga Bomo yang sekarang sedang merantau. Misalnya begini: sedulur-sedulur, pada bulan Ramadhan minggu ke tiga di desa kita terselenggara Sinau Nulis.” saran Kang Hajir. Dengan hasrat bercerita kepada sedulur itu maka tulisan bisa lebih emosional dan nikmat dibaca. Coba saja. [Redaksi Kalijagan.com]

Avatar photo
Majlis Masyarakat Maiyah Kalijagan Demak adalah bagian dari Majlis Masyarakat Maiyah Nusantara.
  • Kum