Majlis Maiyah Telatah Demak

Bercermin Sareh Dari Zaman Nabi

Reportase Majlis Maiyah Kalijagan edisi Jum’at Legi, 2 November 2018/ 24 Shaffar 1440 | Sing Sareh, Saleh! | bagian kelima

 

Seusainya dua jamaah yang berkenan membagi sedikit ilmunya kepada audiens yang hadir malam itu. Dannu Sakkonco mengajak sinau bareng dengan nada dan lirik lagu. Kali ini, ada konco barunya Dannu yang mensedekahkan suara emas, sekaligus paras ayunya yakni Fatma. ‘Ya Habibal Qolbi’ dan ‘Deen Assalam’ menyapa sedulur JM Kalijagan malam itu. Bahwa jika engkau sanggup menyapa kekasih hati (yang sareh), engkau akan menemukan (deen assalam) kedamaian agama, kedamaian jiwa yang disebut saleh. Malam itu, Kalijagan sedang menempuhnya dan berproses dalam kesarehan jiwa, kesalehan laku yang bertebar bersama seluruh makhluk yang hadir.

Selanjutnya, moderator mempersilahkan Kang War memaparkan pandangan dan menebar buah pikirnya. Dimulai dengan resapan masa lampau bahwa peristiwa ‘sareh’ dan tidak ‘sareh’ sudah ada sejak zaman Nabi Adam. Berawal dari peristiwa semua makhluk yang diperintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam. Dari sana, sepertinya Allah itu sengaja mendesaign agar ada satu tokoh antagonis. Bahwa itu sebenarnya sudah disetting oleh Sang Sutradara untuk seperti itu. Ada satu figur antagonis yang memang sengaja diciptakan khusus untuk Iblis dengan perintah defaultnya ‘jangan sujud kepada Adam’. “Sepertinya adegannya dibalik layar seperti itu,” katanya sembari sedikit tertawa, membuka kisah cerminan sareh dari zaman awal penciptaan manusia.

Kalau Allah tidak berkehendak seperti itu, apa hal itu akan terjadi? Dibalik imagenya yang menentang perintah Allah, sebenarnya Iblis itu makhluk yang sangat patuh kepadaNya. Dalam posisi dan porsinya, itu kesalehannya. Dari peran itu Allah tampaknya ingin menunjukkan suatu dinamika atau ‘wolak walik ing dunyo’ nantinya bakal seperti itu. “Karena Allah itu menciptakan segala sesuatu sudah sangat seimbang, berimbang, sangat presisi. Rak ono sing mleset.” tegas Kang War.

Kemudian perjalanan Adam ditempatkan di surga. Sudah diwanti-wanti. Ada satu perkara yang tidak boleh dilanggar, yakni adanya simbol suatu pohon yang menghasilkan buah yang disebut sebagai buah khuldi. Dari sana ujian kesarehan Nabi Adam sebagai manusia itu bermula. Sementara itu, dalam menjalankan peran secara profesional Iblis — meski dahulunya adalah bendaharawan surga (kanzul jannah) yang bernama azazil —, tentunya ia taat pada perintah Sutradara. Ia membujuk, merayu, menghegemoni, menginfiltrasi, mempenetrasi Nabi Adam agar memetik sesuatu yang semestinya belum menjadi jatahnya. Pada akhirnya diambilah buah itu oleh Nabi Adam. Begitulah kesarehan Nabi Adam diuji untuk pertama kalinya.

Begitulah kisah sareh yang bisa kita timba dari cermin Nabi Adam yang dikisahkan Kang War malamitu. Sebagaimana film, kalau kisahnya ‘lurus-lurus saja’, tidak akan asik. Tentu kalian akan ketipu total jika menyangka bahwa pembangkangan Iblis untuk sujud merupakan inisiatif Iblis. Begitu pun ketika Iblis membujuk rayu Nabi Adam agar memetik dan memakan buah khuldi, yang dampaknya Nabi Adam dihukum untuk ‘mampir ngombe’ di bumi dan berproses menuju keabadian akhirat (surga). “Kata khuldi itu sebetulnya adalah metamorfosis atau transformasi dari kata kholid, kholidina fiha abada. Yang maknanya adalah keabadian,” jelas Kang War. Memang belum saatnya Nabi Adam untuk menggapai keabadian itu. Sebagaimana bayi kalau sedang makan, yang boleh dimakan si bayi adalah sesuatu yang sesuai dengan metabolisme biologisnya.

Selain kisah Nabi Adam, Kang War juga menyinggung soal manusia yang paling sareh di muka bumi. “Manusia paling sareh yang kita kenal yaitu Rasulullah Muhammad Shalla Allahu ‘alaihi wa Salam,” lanjutnya. Nabi Muhammad adalah manusia yang sudah disucikan dan dijamin kesuciannya, namun belaiu tidak pernah merasa suci. Begitu pun para Nabi sebelum Nabi Muhammad dan sesudah Nabi Adam yang banyak memberi pelajaran sareh kepada kita. Hal itu bisa kita cermati dan temukan dalam do’a-do’a yang sering kita lantunkan di surau, langgar maupun masjid.

Berikut adalah do’a yang dibagikan Kang War kepada Jamaah malam itu agar selalu dijaga Allah dalam kesarehan. Do’a Nabi Adam yang berbunyi ‘Rabbana dholamna anfusana wa in lam taghfirlana wa tarhamna lanakunanna min al khosirin’. Do’a Nabi Yunus yang dibaca ketika peristiwa kesumpekannya di dalam perut ikan, ‘Laa ilaHa illa Anta, Subhanaka inni kuntu min addholimin’. Pelajaran dari para Rasul dan Nabi sebelum Nabi Muhammad saja sudah memberikan keteladanan bagi kita mengenai sareh. Apakah Anda bisa membayangkan, manusia terkasih, Muhammad, diberi ujian seberat apa? Lalu seberapa lapang kesarehan beliau? [Ajib/ Redaksi Kalijagan.com]

Avatar photo
Majlis Masyarakat Maiyah Kalijagan Demak adalah bagian dari Majlis Masyarakat Maiyah Nusantara.
  • Kum