Majlis Maiyah Telatah Demak

Berlatih Pulang di Kalijagan

Nandur Wineh

Secara pribadi rasanya tidak bisa menerima Mbah Nun kerapkali berkata “ora usah nggugu aku” (tidak usah percaya saya). Bagi kami Mai’yah adalah majlis ilmu, sehingga apapun yang dilontarkan beliau adalah “benih-benih” yang seyogyanya dipercaya keunggulan kualitas bibitnya untuk ditanam. Dalihnya adalah Mbah Nun tidak berkenan “diseret” di akhirat kelak untuk dimintai pertanggungjawaban atas segala perkataan/perbuatan di hadapan “anak cucu” nya.

Baiklah, saya pantang menyerah dengan ketidakberterimaan itu. Benih-benih ilmu tak lantas tergeletak begitu saja di botol penyimpaan, kami tanam di tanah peradaban pada petak lahan yang tandus tatkala kemarau serta rawan longsor saat penghujan. Sungguh, tumbuhnya benih-benih itu semua di luar kuasa manusia yang kerapkali diatasnamakan dengan mengabsenkan nama-Nya dalam berbagai kejadian hidup. Atas nama Tuhan, atas nama kemanusiaan adalah ungkapan yang abu-abu.

Pembibitan ilmu di pekarangan Maiyah tidak sekadar menumbuhkan cabang/ranting pohon ilmu yang baru. Ilmu bukanlah buah dari benih-benih ilmu itu sendiri. Itu aneh, seperti anehnya biji semangka yang tumbuh menghasilkan buah semangka tanpa biji. Itu makin di luar kuasa nalar awam. Namun ketidakberterimaan perlahan meredam, saya mulai ingat “ilmu padi” yang sering “diselep” Mbah Nun dalam berbagai Ma’iyahan. Bukan perihal makna peribahasa, namun lebih pada konteks siklus hidup.

Beras bukanlah akhir perjalanan dari siklus benih padi. Hanya “jaran eblek” yang mungkin makan padi, itu sekadar sajian hiburan yang tidak terhidangkan di piring makan kita. Meski “hidup adalah senda gurau belaka”, kita tidak boleh terseret arus kelakarnya. Kearifan manusia oleh ilmu harus berlanjut pada rangkaian-rangkaian kemungkinan hidup yang seolah menantang untuk dilalui. Jangan sampai salah menaruh sajian di piring santap, cocokkan lauknya sesuai dengan kemampuan. Dan jangan melanggar batas-batas kemerdekaan, karena sesungguhnya manusia merdeka adalah mereka yang mengerti batasan-batasan.

 

Majlis Ni’mah

Lantas apa yang didapatkan dari berkebun di ladang Ma’iyah? Mbah Nun secara tersurat tidak berkenan diposisikan sebagai satu-satunya sumber ilmu, itu jelas mengendap pada dasar kesadaran kami. Itu bukan pernyataan sensasional belaka, namun justru mengantarkan kita semua pada sumber mata air ilmu itu sendiri. Saya mulai “sami’na wa atha’na” dengan ungkapan “ora usah nggugu aku”nya Mbah Nun. Kita mungkin boleh curiga jangan-jangan beliau sudah sampai pada titik koordinat tepat sumber mata air itu.

Tidak ada yang dapat membuktikan, namun bisa dirasakan sepertinya itu tidak sekadar tetesan ilmu yang kita tadah. Tapi juga tetesan cinta, kerinduan, ketentraman dan segala sesuatu yang berkerabat dengan “kenikmatan”.
Iya, “kenikmatan”. Bukan kenikmatan yang semu, namun kenikmatan yang sejati dan abadi. Dalam keterbatasan, sangat aneh jika manusia rupanya hidup abadi. Jangan mudah terjebak pada demarkasi mikro dimensi kehidupan, kesementaraan manusia hanya pada “perimeter” dunia. Selebihnya adalah keabadian yang ternyata menampung kesementaraan itu sendiri. Sungguh kerugian yang amat besar jika pada kesementaraan dalam keabadian, kita hidup dalam ketidaknikmatan.

Di Ma’iyah, kita “berlatih kembali” menjadi penghuni “Surga” (bukan “Syurga”) yang serba nikmat (bukan serba “Syur”). Sebagai “penghuni asli akhirat”, sangat tidak layak kiranya kita menyeret aspirasi dunia sebagai tujuan akhir dalam siklus “hidup yang abadi”.

 

Pelaju Jalan Sunyi

Kali ini saya percaya dengan ungkapan “ora usah nggugu aku” nya Simbah. Ma’iyah bukanlah lembaga pendidikan formal ataupun gerakan sosial keagamaan, ia adalah sarana menemukan kesejatian dan keabadian.

Lantas apa yang sejati dan abadi? Kita seringkali meyakini sesuatu yang sejati padahal itu semu, kita seringkali menilai sesuatu itu abadi namun nyatanya sementara. Anak cucu Ma’iyah senantiasa berlatih menemukan kesejatian dan keabadian, maka prinsipnya adalah jangan pernah bersandar pada segala sesuatu yang semu dan sementara.

Setiap ungkapan yang terlontar di sidang Ma’yah tidak dibiarkan berlalu liar begitu saja. Tidak ada yang didudukkan sebagai yang “paling tahu segala hal” dalam forum ini, diskursusnya bukanlah “siapa” namun “apa” yang menjadi bidikan. Sehingga, pantang menyalahkan subyek namun bersama-sama menemukan apa yang kiranya belum tepat pada si “apa” itu. Ungkapan “ora usah nggugu aku” menyiratkan pelajaran semacam itu. Bukan tertuju pada pribadi Mbah Nun, namun secara umum segala sesuatu jangan pernah berhenti pada sosok figur subyek. Namun harus tuntas hingga objek-objek yang mungkin tak terbilang.

Pegiat Ma’iyah adalah “pelaju di jalan yang sunyi”. Walau berusaha mencapai kesejatian dan keabadian, namun tidak dituntut sangat sukses/berhasil untuk sampai pada titik-titik koordinat itu. Sebagian besar pelaju Ma’iyah adalah pemuda/pemudi yang rela mendistribusikan waktunya untuk sesuatu yang bagi orang lain mungkin dinilai “tidak berharga”. Berjam-jam duduk bersama mencari sesuatu yang belum pasti namun sejatinya itulah kepastian itu sendiri. Itulah yang dinamakan kesungguhan, yang barangkali membuat Tuhan “tidak tega” untuk menolong siapapun yang berupaya mencari yang sejati dan abadi, yang sesungguhnya itu adalah esensi dari “wujud” Nya.

Di jalan yang sunyi, tidak ada yang tahu dimana letak rumah makan, tidak tahu berapa kelokan dan lubangan yang bertebaran di sepanjang jalur. Tugas kita adalah menjalani, bukan berlama-lama mampir untuk memuaskan lapar-dahaga atau sibuk menghitung kelokan/lubangan. Keyakinan kita hanyalah tunggal, semua itu adalah jalan menuju pulang. Tempat menuju dari mana semuanya berasal. Itulah kiranya benih ilmu yang ternyata berbuah cinta, sesuatu yang seperti api anggun nan menghangatkan, seperti embun pagi nan menyejukkan. Dengan cinta jalan yang sunyi menjelma menjadi keramaian, karena qalbu tak pernah sepi dari kesibukan “melihat-Nya”.

 

Tarji’; Ayat Kehidupan

Kalijagan adalah tempat berladang siapapun yang bersungguh-sungguh menyemai ”benih-benih ke Illahi an” yang bertajalli melalui asma-asma Nya. Allah mencintai keindahan, jama’ah Kalijagan menyambutya dengan mengindahkan cinta. Walau bukan ajang hiburan/pencarian bakat, semua bergembira dan terhibur dengan bakat-bakat yang tumbuh, lebih presisinya ditumbuhkan Allah. Semua tentu dalam kerangka cinta, pengobat kerinduan untuk berjumpa dengan Sang Maha Indah.

Sang Maha Indah menciptakan makhluk Nya yang terindah, yang terpilih, sebaik-baiknya ciptaan baik dalam wujud rupa maupun budi pekerti. Adalah Rasulullah Muhammad SAW, wujud kemanunggalan yang sempurna antara nur, ruh serta jasadnya. Dirinya adalah pembimbing jalan cinta yang sejati dan abadi. Majlis Kalijagan tidak pernah tidak menghadirkan sosoknya, meski bukan secara kasat mata namun ruang kesadaran tidak pernah kosong dari keberadaannya. Demikian juga dengan Kanjeng Sunan Kalijaga, sang ‘waratsatul anbiya wal mursalin’ yang dipinjam namanya untuk perserikatan ini.

Kanjeng Nabi dan Kanjeng Sunan adalah dua contoh ”Makhluk Abadi”. Semoga sebutan itu tidak berlebihan. Namun yang tidak terbantahkan buktinya adalah warisan-warisan beliau berdua masih lestari hingga kini. Ajaran-ajarannya tidak terhalang oleh ”kematian”.

Banyak yang meyakini kematian akhir segalanya, namun tidak sedikit yang mengimani putus cinta atau patah hati adalah akhir dunia. Apa yang singgah di benak ketika mendengar siaran orang meninggal melalui pengeras suara masjid/musholla? ”Hidup si fulan/fulanah telah berakhir”. Tidak keliru, namun perlu ditertibkan. Hidup di dunia adalah awal menuju akhir, habisnya kontrak jasad adalah akhir dari suatu awal. Kalijagan adalah sarana berlatih untuk tetap on the track menuju koordinat pulang, tempat permulaan segalanya berawal. Sesungguhnya bukan berlatih, namun memang benar-benar sedang berproses pulang. Kita tidak boleh disorientasi keadaan, ada ujian dalam belajar juga ada pembelajaran dalam ujian. Tiga tahun tidak dapat dikatakan sebagai permulaan, juga bukan akhir waktu tempuh perjalanan.

Dan akhirnya untuk menyudahi celotehan tersurat ini saya sampaikan, mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane. Mari jangan letih tandur, minimal untuk menjaga hidup ini agar tidak mudah sumuk saat kemarau serta mejaga dari banjir bandang peradaban tatkala hujan badai. Selebihnya, kembalikan pada Allah Yang Maha Mengetahui segala rahasia. Mari ramaikan jalan sunyi ini penuh dengan kesyukuran dan kesetiaan untuk tidak berpaling dari Nya. “Faman kāna yarjū liqā’a rabbihī falya’ mal ‘amalan shāliḥaw wa lā yusyrik bi’ibādati rabbihī aḥada(n)”. Semoga selamat sampai tujuan.

Semarang, 1 Februari 2020

Kang War
Dosen Universitas Negeri Semarang (Unnes)