Majlis Maiyah Telatah Demak

MIN-ATS TSANI ILA TSULATS

Februari 2020 nanti Kalijagan memasuki usia tiga tahun. Ibarat manusia, usia tiga tahun adalah momentum untuk disapih. Untuk tidak lagi menyusu kepada Sang Ibu? Lalu siapa yang menjadi ibu bagi Kalijagan? (Tentu hal ini bisa menjadi bahan bagi Anda-Anda untuk kemudian dikirim kepada redaksi Kalijagan.com dalam bentuk teks.) Atau jangan-jangan Kalijagan merupakan manusia sejenis Adam alaihissalam yang lahir tanpa harus menyusu, yang tidak perlu disapih, dan mendewasa ditempa oleh peristiwa.

Namun jika Kalijagan merupakan bayi yang menyusu pada seorang ibu, dalam tradisi kita biasanya bayi akan disapihkan kepada sesepuh—yang dituakan dalam ruang keluarga dan masyarakat. Lalu kepada siapakah Kalijagan akan disapihkan jika demikian adanya. Kepada siapa kalau tidak kepada marja’ kita, Mbah Nun, Syech Kamba, Abah Fuad, Pak Toto dan Mas Sabrang.

Terlepas dari itu, tentu perlu kita ketahui bersama dan ingat-ingat pertumbuhan Kalijagan hingga usia tiga Tahun. Banyak sekali tema yang kita sinauni bersama, banyak pula peristiwa yang tidak kita sangka terjadi, dan banyak pula kegembiraan yang selalu kita jadikan pijakan dalam bermaiyah—baik secara forum maupun sesrawungan kemasyarakatan. Dari banyaknya hal, setidaknya ada sedikit hal yang bisa saya catat selama setahun ini. Dari dua menuju tiga, min-ats tsani ila tsulats, sebagaimana berikut.

Alhamdulillah, selama setahun ini Kalijagan bisa istiqomah bertempat di Universitas Sultan Fatah (Unisfat) dan tiap bulannya selalu berjalan di Jum’at pertama tanpa memaksa libur—meski beberapa kali harus terlaksana di Jum’at kedua. Alhamdulillah, dalam perjalanan dua menuju tiga, malah ketambahan forum sinau bareng bersama Gus Aniq, Mas Nadhif dan Wakijo Lan Sedulur dengan tema Berkah dalam momentum pernikahan Kang Ipnu dan Mbak Via Allahu yarham pada sabtu, 9 Maret 2019 di Wonosalam, Demak.

Selain itu dalam setahun ini, Kalijagan juga melaksanakan wirid Amar Maiyah berjamaah di tempat yang berbeda-beda selama empat kali. Namun poster yang kami buat hanya pada Sabtu, 27 April 2019 di Kediaman Mas Nadhif, Beguron, Demak. Selainnya hanya melalui undangan via grub Whats’App. Pun kami kedapatan berkah di bulan Ramadlan, dengan kerawuhan Mas Sabrang MDP yang mengajak ketemu adik-adiknya Kalijagan saat buka puasa.

Selanjutnya mengenai tema yang kami sepakati selama dua menuju tiga tahun Kalijagan, tema-tema sejarah yang kami sinauni bersama. Hal itu sebagai upaya agar kita lebih mengenali siapa sebenarnya kita, man arofa nafsahu faqod arofa robbahu, agar pijakan langkah kita masih tertaut dengan derap langkah yang telah dipijakkan oleh para leluhur. Selain itu, tentu banyak hal dari leluhur yang bisa kita elaborasi dalam kondisi kesekarangan yang kita alami. Tema-tema itu ialah Sayyidin Panatagama (April ’19), Sarjawala (Mei ’19), Kupatan (Juni ’19), Prawata (Juli ’19), Hamengku Bumi (Agustus ’19), Gundul-Gundul Pacul (September ’19), dan Teken (Oktober ’19).

Selain tema-tema sejarah, Kalijagan juga menyuguhkan respon atas tulisan-tulisan Mbah Nun sebagai tema sinau bareng. Diantaranya saat Milad ke 2, kami mengyuguhkan ‘Tumpeng, Sinau Hierarki’. Tema lainnya ialah Sinau Belatung (Maret ’19), Darurat Sunah (November ’19), Jalan Mulia (Desember ’19) dan Andhum Trisno Ngunduh Selamet (Januari ’20).

Setidaknya itulah sedikit hal yang bisa kami catat atas apa yang kami lakukan selama tahun kedua menuju ketiga. Setidaknya itulah yang mungkin perlu kita ketahui, agar langkah-langkah Kalijagan di tahun ketiga dan seterusnya mampu kita perjuangkan bersama. Bahwasanya yang dibangun di Maiyah bukanlah menjadikan kita sebagai prajurit yang harus menunggu komando pimpinan tertinggi—sebab nyatanya maiyah tidak memiliki pimpinan selain Allah dan Kanjeng Nabi. Maiyah membangunkan kita untuk menjadi seorang pejuang, yang tanpa komando, tanpa perintah, kita melakukan apa yang kita bisa. Menjalankan apa yang menjadi keahlian kita untuk kemanfaatan bersama.

HB. Arafat
Perintis usaha RIFA MAP, mantan Kabiro Jateng dan wartawan Majalah Ruang Rekonstruksi. Menulis puisi, cerpen, esai, kolom. Penggiat Maiyah Kalijagan Demak.