Setiap tahun, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia bergerak menuju satu titik yang sama: Mekah al-Mukarramah. Mereka meninggalkan rumah, keluarga, pekerjaan, dan berbagai urusan dunia untuk memenuhi panggilan yang telah bergema sejak zaman Nabi Ibrahim AS. Dengan mengenakan pakaian ihram yang sederhana, mereka berdiri sejajar tanpa membedakan status sosial, jabatan, maupun kekayaan. Di hadapan Ka’bah, semua manusia kembali menjadi hamba.
Bagi sebagian orang, haji mungkin tampak sebagai perjalanan fisik yang panjang dan melelahkan. Namun para ulama dan sufi mengajarkan bahwa di balik perjalanan lahiriah itu tersimpan perjalanan yang lebih dalam: perjalanan menuju pengenalan diri dan pengenalan kepada Allah. Salah satu ajaran yang menggambarkan hal tersebut dapat ditemukan dalam Suluk Linglung.
Diceritakan bahwa Syeh Malaya mendapat petunjuk dari Sunan Bonang, gurunya, untuk berangkat ke Mekah. Tujuannya jelas: menunaikan ibadah haji, mengambil air Zamzam, dan memohon berkah kepada Nabi Muhammad SAW. Namun perjalanan yang ditempuhnya tidaklah mudah. Ia menerabas hutan, mendaki gunung, menuruni jurang, hingga akhirnya sampai di tepi samudra yang luas.
Sekilas kisah ini tampak seperti petualangan biasa. Namun sesungguhnya setiap bentang alam yang dilalui Syeh Malaya adalah simbol perjalanan batin manusia. Hutan melambangkan kebingungan pikiran, gunung menggambarkan kesombongan dan ambisi yang harus ditaklukkan, sedangkan jurang adalah lambang ketakutan, keraguan, dan keterbatasan diri. Bukankah setiap orang yang ingin mendekat kepada Allah juga harus melewati rintangan-rintangan serupa?
Di tepi samudra, langkah Syeh Malaya terhenti. Di hadapannya terbentang lautan tanpa batas. Ia tidak menemukan perahu. Tidak ada jalan yang tampak. Untuk sesaat ia hanya bisa termenung, menyadari bahwa segala kemampuan manusia pada akhirnya memiliki batas.
Pengalaman ini sesungguhnya sangat dekat dengan perjalanan seorang jamaah haji. Sebelum berangkat ke Tanah Suci, seseorang sering merasa mampu mengendalikan hidupnya. Ia bangga pada kedudukan, ilmu, atau hartanya. Namun ketika berdiri di hadapan Ka’bah bersama jutaan manusia lainnya, kesadaran itu perlahan berubah. Di sana ia menyadari betapa kecil dirinya di hadapan kebesaran Allah.
Kesadaran semacam itulah yang dialami Syeh Malaya di tepi samudra. Ia sampai pada titik ketika akal tidak lagi mampu menunjukkan jalan, dan yang tersisa hanyalah kepasrahan.
Lalu ia mengambil keputusan yang mengejutkan. Ia menceburkan diri ke dalam laut dan berenang menuju ketidakpastian. Dalam bahasa tasawuf, tindakan ini bukanlah ajaran untuk bertindak sembrono, melainkan simbol keberanian meninggalkan ego dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah.
Bukankah semangat yang sama juga terkandung dalam ihram?
Ketika seorang jamaah memasuki miqat, ia menanggalkan pakaian kebesaran dunia. Tidak ada lagi seragam jabatan, tanda pangkat, ataupun simbol kemewahan. Yang tersisa hanyalah dua lembar kain putih yang sederhana. Semua manusia berdiri sama di hadapan Tuhan.
Pakaian ihram mengingatkan bahwa perjalanan menuju Allah hanya dapat ditempuh dengan kerendahan hati. Apa yang dalam Suluk Linglung disebut sebagai ageman pati—pakaian kematian—sesungguhnya menemukan bentuk nyatanya dalam ihram. Sebab sebelum manusia mati secara jasmani, ia terlebih dahulu diajak mematikan kesombongan, keakuan, dan hawa nafsunya.
Di tengah samudra, Syeh Malaya bertemu Nabi Khidir. Dalam tradisi tasawuf, Nabi Khidir sering dipahami sebagai simbol hidayah dan kebijaksanaan yang dianugerahkan Allah kepada seorang pencari yang sungguh-sungguh. Namun alih-alih memuji perjalanan Syeh Malaya, Nabi Khidir justru memberikan pelajaran yang mendalam.
Beliau mengingatkan bahwa perjalanan lahiriah tidak akan berarti jika manusia belum memahami tujuan yang sebenarnya. Jangan berjalan jika tidak tahu ke mana akan pergi. Jangan memakai pakaian jika tidak memahami makna pakaian yang dikenakan. Jangan beribadah jika belum mengenal siapa yang disembah.
Wejangan ini sangat relevan dengan ibadah haji.
Seorang muslim memang diwajibkan melaksanakan haji sesuai tuntunan syariat. Ia harus ihram, tawaf, sa’i, wukuf, dan melontar jumrah sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW. Semua itu adalah kewajiban yang tidak dapat ditinggalkan. Namun di balik setiap ritual tersebut terdapat makna yang seharusnya diresapi.
Tawaf bukan sekadar berjalan mengelilingi Ka’bah. Ia adalah pelajaran bahwa pusat kehidupan bukanlah diri kita, melainkan Allah. Selama ini manusia sering menjadikan ego, ambisi, dan kepentingan pribadinya sebagai pusat segala sesuatu. Tawaf mengajarkan untuk memindahkan pusat itu kepada Tuhan.
Sa’i bukan sekadar berjalan antara Shafa dan Marwah. Ia mengajarkan bahwa kehidupan adalah ikhtiar yang tidak boleh berhenti. Sebagaimana Siti Hajar terus berlari mencari air untuk Ismail, manusia juga harus terus berusaha sambil menggantungkan harapan kepada Allah.
Wukuf di Arafah bukan hanya berkumpul di padang yang luas. Ia adalah saat manusia mengenali dirinya sendiri. Tidak mengherankan jika kata Arafah berasal dari kata “arafa” yang berarti “mengenal”.
“Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu.”
Barangsiapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya.
Di sanalah seseorang merenungkan dosa-dosanya, menyadari kelemahannya, dan memohon ampunan kepada Allah dengan sepenuh hati.
Demikian pula lontar jumrah bukan sekadar melempar batu. Ia adalah simbol perlawanan terhadap hawa nafsu, keserakahan, iri hati, dan segala sifat buruk yang selama ini menguasai diri manusia.
Maka sesungguhnya seluruh rangkaian ibadah haji adalah pelajaran besar tentang transformasi diri.
Haji bukanlah wisata religi. Haji bukan pula sekadar pencapaian sosial yang ditandai dengan gelar “Haji” di depan nama. Haji adalah proses pembelajaran untuk menjadi manusia yang lebih dekat kepada Allah dan lebih baik kepada sesama.
Inilah pesan yang hendak disampaikan dalam dialog Sunan Kalijaga dan Nabi Khidir. Perjalanan menuju Mekah memang penting dan wajib bagi yang mampu. Syariat harus ditegakkan dengan sempurna. Namun perjalanan fisik itu seharusnya berjalan beriringan dengan perjalanan batin.
Sebab seseorang mungkin telah sampai di depan Ka’bah, tetapi belum tentu sampai kepada kesadaran akan kehadiran Allah. Seseorang mungkin telah meminum air Zamzam, tetapi belum membersihkan dahaga jiwanya. Seseorang mungkin telah menyelesaikan seluruh rangkaian manasik, tetapi belum mengalahkan kesombongan dalam dirinya.
Haji yang sejati terjadi ketika syariat dan hakikat bertemu. Ketika kaki melangkah menuju Baitullah dan hati bergerak menuju Allah. Ketika tubuh mengenakan ihram dan jiwa menanggalkan keakuan. Ketika tangan melempar jumrah dan hati membuang sifat-sifat buruk yang selama ini dipelihara.
Pada akhirnya, Ka’bah memang berada di Mekah. Namun jalan menuju Allah tidak hanya terbentang di padang Arafah, Muzdalifah, atau Mina. Jalan itu juga terbentang di dalam hati setiap manusia. Dan seperti yang diajarkan Syeh Malaya, perjalanan terjauh bukanlah perjalanan dari Jawa menuju Mekah, melainkan perjalanan dari kesombongan menuju kerendahan hati, dari kelalaian menuju kesadaran, dan dari diri sendiri menuju Allah SWT.







