Majlis Maiyah Telatah Demak

Mukadimah Kalijagan Juli 2026 ‘Nyuntal Donya:

Ada saat dalam perjalanan hidup ketika seseorang tidak lagi bertanya tentang dunia, melainkan mulai bertanya tentang dirinya sendiri. Pertanyaan itu sederhana, tetapi paling sulit dijawab: Siapakah aku sebenarnya?

Di hadapan Nabi Khidir, Syekh Malaya tidak datang membawa kebanggaan atas laku tirakat yang telah ditempuh, bukan pula memamerkan ilmu yang telah dikumpulkan. Sebaliknya, ia berdiri sebagai seorang fakir di hadapan kebenaran. Dengan penuh kerendahan hati ia berkata, “Sesungguhnya hamba ini tidak mengetahui rahasia tubuh dan diri sendiri. Hamba bagaikan binatang yang hidup di hutan dan gunung, tidak memiliki ilmu ataupun mantra, dan belum memahami bagaimana menjaga kesucian diri.”
Pengakuan itu bukanlah ungkapan keputusasaan, melainkan awal dari lahirnya kebijaksanaan. Ia seakan menggemakan sabda yang masyhur dalam khazanah tasawuf, “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu”—barang siapa mengenal dirinya, niscaya ia akan mengenal Tuhannya. Sebab sebelum mengenal Tuhan, manusia harus lebih dahulu menyadari betapa asingnya ia terhadap dirinya sendiri.
Syekh Malaya bahkan mengibaratkan dirinya seperti seekor binatang yang tersesat di tengah hutan kehidupan. Ia merasa tidak memiliki apa-apa. Dalam tasawuf, keadaan ini dikenal sebagai faqr—kefakiran spiritual. Bukan miskin harta, melainkan kesadaran yang mendalam bahwa di hadapan Allah manusia benar-benar tidak memiliki apa pun untuk dibanggakan.
Di situlah letak paradoks perjalanan ruhani. Semakin dekat seseorang kepada cahaya, semakin ia menyadari luasnya kegelapan yang masih menyelimuti dirinya. Semakin tinggi ilmu yang diperoleh, semakin kecil ia merasa. Tirakat yang panjang, perjalanan yang melelahkan, dan penderitaan yang telah dilalui tidak membuat Syekh Malaya merasa telah sampai. Justru semuanya menghancurkan kesombongan hingga yang tersisa hanyalah seorang hamba yang berkata, “Aku belum mengenal diriku.”
Suluk ini mengajarkan bahwa pintu kebijaksanaan tidak pernah terbuka bagi mereka yang menganggap dirinya telah selesai. Pintu itu justru terbuka bagi mereka yang berani mengakui bahwa dirinya masih belajar—belajar mengenal diri, belajar mengenal Tuhan, dan belajar memahami kehidupan dengan hati yang selalu rendah.
Kemudian Nabi Khidir memandangnya dengan kasih sayang seraya bersabda, “Wahai anak muda yang linglung, yang di belakangmu dicela oleh dunia. Ke mana-mana engkau mengembara di bumi. Engkau bagaikan keris tanpa warangka, seperti ucapan tanpa bingkai makna.”
Sebutan linglung dalam suluk Jawa bukanlah ejekan. Ia adalah penanda sebuah fase yang sangat halus dalam perjalanan batin: berada di antara dua dunia. Dunia lama telah ditinggalkan, tetapi hakikat yang baru belum sepenuhnya tersingkap. Dalam tradisi tasawuf, keadaan ini dikenal sebagai hayrah—kebingungan spiritual. Bukan kebingungan karena kehilangan arah, melainkan karena akal telah mencapai batasnya dan tak lagi mampu menjangkau hakikat.
Para sufi besar memandang hayrah bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai gerbang. Sebab selama seseorang masih merasa mampu memahami segala sesuatu dengan akalnya, ia belum benar-benar memasuki wilayah makrifat. Ketika seluruh kepastian runtuh, barulah hati mulai belajar mendengar.
Maka jangan heran bila para pencari hakikat sering tampak asing di mata masyarakat. Mereka tidak lagi sepenuhnya mengejar harta, kedudukan, ataupun kesenangan dunia sebagaimana kebanyakan orang. Cara pandang mereka berubah, ukuran keberhasilan mereka bergeser. Karena itu, mereka kerap dianggap aneh, bahkan dicela. Namun bagi seorang salik, celaan manusia jauh lebih ringan daripada kehilangan arah menuju Tuhan.
Barangkali setiap manusia, pada suatu masa, harus menjadi “anak muda yang linglung”. Harus berani kehilangan merasa tahu agar diberi pengetahuan. Harus rela kehilangan kebanggaan agar menemukan kerendahan hati. Dan harus mengakui bahwa dirinya belum mengenal siapa dirinya, agar suatu hari dianugerahi kesempatan untuk mengenal Dia, Sang Pemilik segala rahasia.

Majlis Masyarakat Maiyah Kalijagan Demak adalah bagian dari Majlis Masyarakat Maiyah Nusantara.