Majlis Maiyah Telatah Demak

Aran tanpa Sifat, Sifat tanpa Aran

Di dalam kehidupan sehari-hari, kita terbiasa memberi nama pada segala sesuatu. Nama membantu kita mengenali, membedakan, dan berkomunikasi. Manusia sering terjebak pada apa yang tampak. Nama, gelar, kedudukan— semua itu adalah aran, sebutan yang dilekatkan.

Namun, tidak semua yang bernama memiliki ciri yang diharapkan. Ada yang disebut bijak, namun hatinya keruh. Ada yang disebut alim, namun ilmunya kering tanpa laku. Inilah yang disebut aran tanpa sifat—nama yang eksis, tetapi kosong dari isi.

Sebaliknya, ada pula yang berjalan dalam sunyi. Tak dikenal, tak diagungkan, tak disebut ulama. Namun tutur dan perilakunya membuktikan sifat yang diharapkan dari seorang alim. Inilah sifat tanpa aran—hakikat yang hidup, meski tanpa sebutan atau pengakuan.

Contoh lain, ada pejabat tinggi, namun namun suka buat gaduh. Tidak pandai menentramkan hati, apalagi membuka jalan kesejahteraan bagi rakyatnya. Keputusan-keputusan yang dikeluarkannya diarahkan sesuai kepentingan sendiri atau kelompoknya, bukan untuk kebaikan rakyatnya. Itulah aran tanpa- sifat. Di sisi lain, ada pegawai kecil yang tidak memegang kewenangan apapun, hanya menjalankan perintah ke sana dan ke sini. Namun, dalam menjalankan perintah dia bawa hatinya. Dia lenturkan perintah itu dengan solusi-solusi yang bijaksana agar tidak menyakiti warganya. Dia bimbing warganya dengan arahan- arahan untuk hidup yang lebih baik. Inilah sifat tanpa aran.

Dalam pandangan filsafat Jawa dan tasawuf Islam, nama bukanlah inti dari realitas. Di sinilah muncul ungkapan “sifat tanpa aran, aran tanpa sifat”— sebuah cara halus untuk mengingatkan bahwa tidak semua yang disebut itu nyata, dan tidak semua yang nyata harus disebut.

Dalam tradisi tasawuf, pembedaan ini sangat penting. Para sufi memandang bahwa realitas memiliki dua lapisan: yang tampak (lahir) dan yang sejati (batin). Nama, bentuk, dan identitas berada di wilayah lahir—apa yang dalam ungkapan Jawa disebut aran. Sementara itu, hakikat, makna, dan keberadaan sejati berada di wilayah batin—itulah sifat.

Ketika dikatakan “sifat tanpa aran”, maksudnya adalah bahwa hakikat sejati tidak bergantung pada nama. Dalam tasawuf, ini terlihat jelas dalam pemahaman tentang Tuhan. Allah dikenal melalui banyak nama—Maha Pengasih, Maha Mengetahui, Maha Kuasa—tetapi hakikat-Nya tidak terbatas oleh nama-nama tersebut. Seorang sufi seperti Ibn Arabi menjelaskan bahwa nama-nama Tuhan hanyalah pintu pendekatan, bukan batasan. Artinya, bahkan tanpa disebut, Yang Ilahi tetap ada. Hakikat tidak menunggu bahasa untuk menjadi nyata.

 

Sebaliknya, ungkapan “aran tanpa sifat” mengandung kritik yang tajam. Ini merujuk pada keadaan ketika sesuatu memiliki nama atau label, tetapi tidak memiliki isi yang sesuai. Dalam konteks tasawuf, hal ini sering dikaitkan dengan praktik keagamaan yang hanya berhenti pada formalitas. Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa banyak orang menjalankan ibadah secara lahiriah, tetapi hatinya tidak hadir. Shalat dilakukan, zikir diucapkan, gelar keagamaan disandang—namun semua itu bisa menjadi kosong jika tidak disertai kesadaran batin. Di sinilah “nama” berdiri tanpa “hakikat”.

Dari sini, tasawuf mengajak manusia untuk bergerak lebih dalam: dari sekadar mengetahui nama menuju memahami makna. Perjalanan spiritual bukan tentang mengumpulkan identitas, melainkan menyingkap hakikat. Dalam bahasa para sufi, ini adalah proses dari syariat menuju hakikat, dari bentuk menuju esensi.

Pemahaman ini juga relevan dalam melihat diri manusia. Kita memiliki banyak “nama”: profesi, status sosial, gelar, bahkan citra diri. Namun semua itu belum tentu mencerminkan siapa kita sebenarnya. Hakikat manusia, dalam pandangan tasawuf, terletak pada ruh—unsur ilahiah yang ditiupkan oleh Tuhan. Ketika seseorang terlalu melekat pada “aran”, ia berisiko kehilangan kontak dengan “sifat”-nya sendiri.

Tokoh sufi seperti Jalaluddin Rumi menggambarkan hal ini dengan sederhana namun dalam: manusia sering sibuk dengan kata-kata, padahal yang dicari adalah makna. Dalam konteks ini, “nama” hanyalah penunjuk arah, bukan tujuan akhir.

Akhirnya, ungkapan “sifat tanpa aran, aran tanpa sifat” bukan sekadar permainan kata, melainkan panduan cara berpikir. Ia mengajak kita untuk tidak mudah terpesona oleh label, dan tidak tergesa-gesa menyimpulkan sesuatu hanya dari namanya. Lebih dari itu, ia mendorong kita untuk terus mencari hakikat—baik dalam memahami dunia, menjalani kehidupan, maupun mendekat kepada Tuhan.

Karena pada akhirnya, yang menentukan bukan apa yang disebut tentang sesuatu, melainkan apa yang benar-benar ada di dalamnya. Di jalan menuju Allah, manusia diajak melampaui keduanya. Bukan sekadar untuk disebut …. , dan bukan sekadar menyimpan sifat dalam diam. Melainkan menyatu dalam kesadaran yang lebih dalam—di mana nama tak lagi penting, dan sifat pun tak lagi diakui sebagai milik diri.

Pada titik itu, yang tersisa hanyalah keikhlasan dalam kegembiraan—(suko lilo). Tak ada “aku” yang merasa memiliki kebaikan, tak ada “aku” yang ingin dikenal atau disebut. Yang ada hanyalah laku yang mengalir, sebagai pantulan dari Yang Maha Ada.

Maka, aran tanpa sifat adalah bayang tanpa wujud, sifat tanpa aran adalah cahaya tanpa nama, dan kesempurnaan adalah saat keduanya luruh—kembali pada asal, pada Yang Satu.

Kecemasan terhadap identitas itulah yang juga pernah diingatkan oleh Mbah Nun dalam tulisannya yang berjudul “Kecemasan Terhadap Identitas”(29/09/2017). Menurutnya, ketika manusia terlalu menyederhanakan ketakwaan hanya pada identitas seperti ulama, kiai, atau ustadz, manusia bisa terjebak pada rasa paling benar dan paling dekat dengan kebenaran. Padahal perkara ilmu, tafsir, dan ketakwaan memiliki wilayah ghaib yang tidak sepenuhnya dapat diukur oleh gelar, pakaian, maupun pengakuan masyarakat. Sebab hanya Allah yang benar-benar mengetahui kadar ketakwaan seseorang. Karena itu, yang lebih penting bukan sekadar identitas keilmuan, melainkan kesungguhan belajar, kerendahan hati, serta kesadaran bahwa manusia selalu mungkin keliru ketika berhadapan dengan firman-Nya.

Majlis Masyarakat Maiyah Kalijagan Demak adalah bagian dari Majlis Masyarakat Maiyah Nusantara.