Ungkapan mati sakjeroning urip terdapat dalam khazanah ajaran Jawa seperti Serat Wulangreh dan Suluk Linglung. Dalam Suluk Linglung karya Sunan Kalijaga terdapat kalimat: “Pawartane pandhito linuwih, pejah sajroning uripe.” Artinya kira-kira: ada ajaran dari seorang guru sakti yang mampu “mati di dalam hidupnya.” Seorang pandhita disebut linuwih ketika ia sanggup mengalami kematian dalam kehidupannya, yakni kematian nafsu dan ego yang menutupi cahaya batin.
Bagian-bagian selanjutnya dari Suluk Linglung menjelaskan hal itu dengan lebih terang: “Ling lang ling lung sinambi angabdi kabeka dene nafsune.” Di tengah kebingungan maupun kebimbangan, seseorang tetap beribadah meski godaan nafsu selalu datang. Dalam ungkapan lain disebutkan: “Liring mati sajroning ngurip kang matine nepsu iku.” Mati di dalam kehidupan berarti matinya nafsu dalam diri manusia.
Ungkapan mati sakjeroning urip biasanya dipadukan dengan urip sakjeroning pati, seperti dalam Serat Wulangreh bait ke-231 tembang Sinom. Dalam konteks ini, kematian bukan merujuk pada jasad, tetapi pada matinya kelekatan duniawi, ego, keserakahan, iri, dan amarah. Laku ini menuntun manusia menapaki jalan kedamaian, hingga mencapai puncak kesadaran Manunggaling Kawula lan Gusti—pertemuan antara makhluk dan Sang Pencipta.
Dalam ajaran tersebut, nafsu digambarkan sebagai penjara yang membelenggu manusia sehingga ia tidak bebas. Pada kesempatan lain, nafsu diibaratkan sebagai hijab, seperti mendung yang menghalangi cahaya matahari menyentuh bumi. Nafsu bersifat mengikat dan menyelubungi manusia dari perjumpaan dengan Yang Ilahi. Dari nafsu lahir ego, keserakahan, kemelekatan, iri, dengki, dan dendam—semuanya bersifat sementara. Seseorang yang terjebak pada nafsu sedang menghamba kepada kesementaraan. Di sisi lain terdapat cahaya Ilahi; orang yang mampu mematikan nafsunya memperoleh kesejatian dan mencapai yang kekal.
Ajaran ini sejalan dengan penjelasan Mbah Nun (Emha Ainun Nadjib) tentang tiga pusat kendali manusia: akal (kepala), hati, dan nafsu (di bawah perut). Keselamatan lahir ketika respons manusia terhadap sesuatu merupakan hasil koordinasi antara akal dan hati sehingga melahirkan kebijaksanaan. Namun bila hati justru bersekutu dengan syahwat, manusia akan terpenjara dan tertutup dari cahaya. Inilah esensi laku mati sakjeroning urip dalam kehidupan sehari-hari: berhenti tunduk pada dorongan bawah, dan mulai menata diri melalui kejernihan akal dan hati.
Dalam tradisi Islam, perjuangan melawan nafsu disebut perang yang lebih besar. Nabi pernah menyampaikan bahwa setelah perang fisik, masih ada perang yang jauh lebih berat, yakni perang melawan hawa nafsu. Seluruh ibadah pada dasarnya adalah dzikir—mengulang, mengingat, dan kembali. Ibadah-ibadah mahdhah seperti salat, puasa, haji, dan zakat memiliki ritme harian, mingguan, tahunan, atau sekali seumur hidup. Dzikir yang terus-menerus memperkecil peluang tumbuhnya nafsu; waktu, ruang, dan energi yang biasa menghidupi nafsu dipersempit, bahkan dipenjara.
Di antara ibadah-ibadah itu, puasa merupakan laku yang paling tegas dalam mengekang ruang gerak nafsu. Puasa membatasi waktu, menahan keinginan, mengendalikan mulut, mata, dan pikiran. Ia melatih manusia untuk berhenti. Dalam kehidupan modern, berhenti adalah kemampuan langka: manusia cenderung memenuhi setiap keinginan sebelum ia sempat bertanya apakah keinginan itu benar-benar perlu.
Mbah Nun menjelaskan hakikat puasa dengan contoh yang sederhana namun dalam: musik. Dalam satu komposisi lagu, ada saat ketika satu instrumen harus diam agar instrumen lain bisa berbunyi. Bila semua instrumen bersuara terus-menerus tanpa jeda, yang muncul hanyalah kebisingan. Musik justru lahir dari kesediaan sebagian instrumen untuk “berpuasa”—menahan diri, tidak tampil, dan memberi ruang bagi yang lain. “Yang satu begini, yang lain puasa,” kata Mbah Nun. Tanpa kesadaran untuk berhenti pada waktu yang tepat, tidak akan ada harmoni. Karena itu, setiap pemusik harus siap berpuasa; ia mesti bersedia tidak berbunyi demi keutuhan lagu.
Contoh tersebut membuka pemahaman bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sebuah disiplin batin yang menata komposisi hidup: kapan harus maju, kapan harus mundur; kapan berbicara, kapan diam; kapan mengambil, kapan melepaskan.
Dalam tulisannya berjudul “Puasa”, Mbah Nun menegaskan bahwa naluri dan akal sehat puasa merupakan muatan terpenting dari kehidupan manusia. Puasa bekerja sebagai pagar yang menjaga manusia agar tidak buta terhadap batas wajar kebutuhannya. Ketika nafsu makan tidak lagi peka terhadap sinyal kekenyangan, puasa hadir untuk mengembalikan manusia kepada kodrat kewajarannya. Ia memisahkan kebutuhan dari kerakusan, serta kecukupan dari keinginan tak berujung.
Dalam tulisan lain, “Hikmah Puasa”, beliau mengajak kita merenungkan pernyataan Allah bahwa puasa adalah ibadah yang “khusus untuk-Ku.” Ungkapan itu bukan karena Allah membutuhkan puasa manusia, melainkan karena puasa adalah ibadah yang manfaatnya paling langsung kembali kepada manusia. Puasa adalah medan perang batin yang tak terlihat, medan melawan diri sendiri, medan pembentukan jati diri. Karena ia begitu personal, begitu rahasia, maka Allah menegaskan kedekatan dan keintimannya.
Puasa, dalam seluruh maknanya, adalah laku mematikan nafsu agar cahaya dapat bekerja. Itulah inti mati sakjeroning urip: mematikan yang sementara agar yang sejati dapat hidup. Dalam tradisi Jawa, Islam, dan penjelasan para sesepuh seperti Mbah Nun, arah akhirnya sama: manusia diundang untuk kembali ke kejernihan, merawat keseimbangan, dan menemukan harmoni dengan Gusti. Puasa adalah jalan untuk itu, sebagaimana diam adalah bagian dari musik, dan kematian ego adalah bagian dari kehidupan.







