Majlis Maiyah Telatah Demak

Menek Jati

Jika kita mendengar lagu ‘ilir-ilir’ karya Mbah Kali, maka kita akan mendengar siapa subjek, apa kata kerja sebagai predikat, dan apa objeknya. Lagu ini adalah anjuran, nasihat, dan rambu-rambu  dari Sunan Kali bagi kita semua.

Baris awal dari lagu ini ada kata ‘tandur’. Tandur disini bisa diartikan dengan ‘anjuran’ atau ‘tandur’ suatu yang dikerjakan oleh masyarakat Jawa. Tandur adalah menanam dan tanduran adalah tanaman. Menaman dan tanaman dalam arti luas adalah laku. Jika laku kita baik maka akan memanen hal yang baik pula. Dunia adalah tempat untuk menanam itu. Tanaman yang ijo royo-royo itu kita akan unduh di akhirat nanti. Tandur pernah menjadi tama Kalijagan pada edisi yang lalu.

Pada baris selanjutnya ada subjek yaitu ‘cah angon’. Cah angon adalah subjek yang memiliki sifat mengasihi. Sifat inilah yang harusnya juga dimiliki oleh manusia yang memimpin dalam ranahnya masing-masing. Kasih sayang adalah sifat pertama yang dimiliki oleh Allah. Kemudian yang dianjurkan dilakukan oleh cah angon itu adalah ‘menek’, memanjat. Proses memanjat itu tidak mudah karena kayu yang dipanjat itu licin. Apa yang dipanjat? Yang dipanjat adalah belimbing. Belimbing adalah simbol. Ia hijau saat masih muda dan kuning saat sudah masak, bergerigi lima. Apa arti dari kuning dan lima itu? Lima bisa rukun lima, bisa rukun Islam. Jadi seorang pemimpin harus angon. Hal utama bagi seorang pemimpin adalah keselamatan yang dipimpinnya. Ia harus memastikan yang dipimpinnya itu tidak lapar dan selamat dari ancaman. Cah angon menek belimbing sebagai modal bagi proses angonnya. Untuk apa itu dilakukan oleh cah angon, tidak lain untuk mendapatkan kesejatian. ‘menek jati’. Menek jati kami pilih sebagai tema Kalijagan edisi 03 Desember 2021.

Di baris-baris berikutnya ada dodot iro, dan simbol-simbol lain dan akan kita pelajari pada kesempatan yang lain.

 

 

Majlis Masyarakat Maiyah Kalijagan Demak adalah bagian dari Majlis Masyarakat Maiyah Nusantara.