Majlis Maiyah Telatah Demak

Nyangkruk Berkah, Cangkrukan Paseduluran

1/

Majlis Maiyah Kalijagan edisi 4 menjadi edisi perdana yang saya ikuti­, tepatnya Jum’at (kedua), 12 Mei 2017 di Kediaman Kang Muhajir Arrosyid, Karangrejo 02/02, Wonosalam, Demak (Gang sebrang PLN Demak). Waktu itu Kalijagan bernama Cangkruk Kalijagan—penamaan yang hanya dijadikan dalam satu edisi tersebut, sebab edisi selanjutnya menggunakan nama Kalijaganan. Nama Cangkruk Kalijagan merupakan usulan dari Kang Ali Fathan (Kudus) saat edisi ketiga, Jum’at, 14 April 2017 di Kediaman Mas Djoko Purnomo (Sampangan-Demak).

Waktu itu, Cangkruk Kalijagan—kemudian disingkat CK mengusung topik Makna Memaknai Alun-Alun. Waktu itu kehadiran Mas Wiwid (Widyanuari Eko Putra) dari Semarang, Gus Aniq (Muhammad Aniq KHB) dari Pati, Kang Ali Fathan dari Kudus dan Yunan Setiawan dari Jepara yang menemani sedulur Kalijagan dalam cangkrukan. Sebelum sinau mengenai topik, CK dimulai dengan Munajat Maiyah dan Sholawatan yang diiringi Grub Rebana Nurun Nida’ dari Bonang, Demak. Kemudian sinau bareng ala cangkrukan berlangsung. Disela-sela sinau bareng, sesekali Rebana Nurun Nida’ mendendangkan sholawat dan qasidah, agar sinau bareng menjadi berkah lantaran tidak melepaskan segitiga cinta Allah-Muhammad-Kita.

 

2/

Nama CK memiliki latar belakang bahwa konsep yang dipakai Kalijagan waktu itu semacam orang yang sedang cangkrukan di warung atau di angkringan. Siapa saja yang hadir, siapa saja yang datang memiliki ruang dan waktu untuk berbicara. Sebab audien yang tak begitu banyak, maka konsep ini bisa dipakai waktu itu.

Moderator yang memandu majlis hanya mengikuti arus yang diciptakan orang yang berbicara. Meski begitu siapa pun yang berbicara memiliki kesadaran bahwa ada orang lain yang hendak berbicara dan bergantian ia mendengarkan. Maka hal itu tidak membuat moderator memotong pembicaraan seseorang atau memberikan batasan waktu kepada yang berbicara.

 

Terkadang ada orang yang mendengarkan tiba-tiba menyela omongan orang yang berbicara, hal itu tidak distop moderator, lantaran suasana itu yang membuat orang semakin dekat dan akrab. Terkadang yang berbicara tanpa disadari kepanjangan dalam berbicara, namun orang yang mendengarkan ikhlas atas waktu yang dihabiskan orang yang berbicara. Suasana yang terbangun mirip sekali dengan suasana cangkrukan dengan sedulur-sedulur atau teman-teman saat di warung.

Suasana itu yang terbangun dari awal Kalijagan hingga edisi ketiga, sehingga Kang Ali Fathan memberikan usulan nama Cangkruk Kalijagan. Di edisi keempat, CK dipakai sebagai penanda keberadaan Maiyah Demak.

 

3/

Dari konsep cangkrukan, dari CK saya menemukan suasana paseduluran. Meski saya telat bergabung waktu itu, saya tidak merasakan rasa sungkan sebagaimana saat saya datang ke majlis-majlis lain. Saya langsung membaur bersama saudara-saudara lainnya. Sebagian sudah saya kenal, seperti nama-nama yang saya sebut sebelumnya, juga Kang Hajir, Kang Ipnu, Mas Yusuf, Haq, dan teman lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan semuanya. Sebagian lainnya, kemudian saya mengenal Kang Ahyar, Mas Djoko, Danu, Chavid dan sedulur-sedulur lainnya. Dari Kalijagan edisi ke 4 ini, saya menemukan saudara tanpa pertalian darah nyata adanya. Barangkali itu yang saudara-saudara temukan dan rasakan saat datang ke Kalijagan.

Jika yang didapat di cangkrukan warung/ angkringan hanya wedang, jajanan dan jagongan, maka cangkrukan di Kalijagan kita mendapatkan lebih dari itu. Ada keberkahan, sebab sebelumnya kita bermunajatan bersama-sama, bersholawat bersama-sama dan berdoa bersama-sama. Ada ilmu dari sinau bareng dan share cerita satu saudara dengan saudara lainnya. Ada persaudaraan yang terbangun dari perdebatan, gasak-gasakan, njaluk udut juga peristiwa lain yang memuat nilai kebersamaan serta kemesraan.

 

Gubug Jetak, 26 Februari 2021

Perintis Usaha Mata Production, mantan Kabiro Jateng dan wartawan Majalah Ruang Rekonstruksi. Menulis puisi, cerpen, esai, kolom. Penggiat Maiyah Kalijagan Demak.