Majlis Maiyah Telatah Demak

Pada Akhirnya, Kita Akan Kembali Ke Tempat Kita Bertumbuh

Hidup penuh kemungkinan, istiqomah memang berat.

Semua berawal dari titik gelisah akhir tahun 2018. Dimana dalam keadaan saya sedang menganggur, kakak mengalami kecelakaan. Resah masih menganggur akhirnya saya menerima ajakan saudara untuk bekerja di Cikarang.

Merasa nyaman karena lemburan lancar, akhirnya saya tak punya waktu untuk hanya sekedar membaca beberapa buku yang memang sudah saya bawa dari rumah. Buku menjadi tak pernah terbuka, tertumpuk di pojok bedeng, sampulnya berdebu, dan terkadang hanya menjadi bantalan teman kerja ketika tidur. Saya sadar betul, ketika literasi saya hancur, kosakata makin tumpul. Perlahan saya seperti dibuat menjauh dari Kalijagan. Bahkan tidak menonton live video di Facebook Kalijagan ketika acara diadakan. Menyedihkan, memang.

Apalagi menulis untuk mengisi web Kalijagan.com, saya tak sanggup, terlalu lelah. Berangkat dari orang-orang baru yang saya temui, dimana terkadang ada hal yang menarik untuk dikulik. Entah itu kepribadian, kebiasaan, atau cara dia memperlakukan orang lain. Ini pelajaran hidup. Banyak hal menarik yang mungkin bisa menjadi bahan tulisan. Awalnya saya sempat mencoba itu. Namun tiap kali setengah tulisan tertuang, saya bingung untuk melanjutkan, hingga tulisan tak pernah terwujud.

Sekarang, saat saya mencoba mencari tulisan itu di catatan HP. Saya tetap tak bisa melanjutkannya. Terlalu banyak detail hal yang terlupakan. Setuju, cara paling aman untuk mengingat suatu hal adalah menulisnya. Ingatan paling kekal adalah tulisan, dimana ia akan tetap abadi.

Kita tahu bahwa banyak orang yang diingat bukan karena menemukan mesin, atau menemukan nuklir. –agaknya para penemu ini disesalkan banyak orang karena dampak dari temuannya– Tapi karena ia menulis. “Jika anda ingin diingat oleh sejarah maka menulislah.” Itu adalah salah satu dari sekian kalimat kondang di dunia literasi, sering digunakan untuk memantik semangat menulis.

Lalu, keadaan menjadi agak mendingan ketika saya pindah kerja ke Surabaya. Saya menjadi rutin melingkar di Bang Bang Wetan, dan kembali membaca buku. Namun, tetap saja, saya merasa jauh dari Kalijagan. Sedikit menunggu, setelah melamar kerja akhirnya saya diterima bekerja. Tempat kerja yang tak begitu jauh dari rumah.

Namun, alih-alih melingkar rutin di Kalijagan, saya malah kerap absen karena acara sering bertabrakan dengan shift masuk kerja. Hingga akhirnya yang terjadi sekarang, saya menganggur. Dampak akibat dari pandemi Covid-19. Namun hal baiknya saya bisa mendekat kembali di Kalijagan, mempererat rangkulan, melengkapi lingkaran, memperbaiki kembali literasi saya yang sebelumnya ambyar. Mungkin juga ini adalah momentum Tuhan mengingatkan saya pada tempat bertumbuh. Seolah-olah berkata “Dimana kamu tumbuh, kamu harus kembali.”

Semua hal memang siklikal, tersusun dalam lingkaran baik-buruk, Tuhan Yang Maha selalu punya cara estetis dalam menciptakan suatu peristiwa. Semoga kita tabah menghadapi pandemi ini. “Badai pasti berlalu, hari yang cerah juga pasti berlalu.” kata Gus Sabrang. Sekarang sedang badai, kita hadapi. Tapi juga harus tetap waspada untuk badai selanjutnya.

 

    *Nyuwun pangapunten dulur-dulur, semoga saya selalu punya semangat untuk istiqomah.

Redaktur Kalijagan.com. Menulis esai, reportase dan puisi. Penggiat Maiyah Kalijagan Demak. Selain itu juga jago dalam reparasi jam tangan.