Majlis Maiyah Telatah Demak

KESELAMATAN RAGA DAN RUH

Beberapa kali saya selamat dari kecelakaan. Saya hanya mengalami hampir dan nyaris kecelakaan. Hampir dan nyaris itu pernah atas kelengahan saya pernah juga atas keteledoran orang lain. Apa pun itu karena masih hampir maka saya bersyukur masih selamat. Maka tidak henti-henti saya berdoa, semoga diselamatkan atas dasar kelengahan diri sendiri dan atas dasar kelengahan orang lain. Amin.
Namun sebenarnya hanya Allah yang tahu sebenar-benarnya ‘selamat’ kita itu. Beberapa waktu yang lalu banyak beredar kutipan yang kira-kira isinya begini: “Telat mungkin adalah cara Allah untuk menyelamatkan kita dari marabahaya.” Karena masa depan adalah misteri maka saya juga bisa bilang bahwa tepat waktu mungkin juga cara Allah untuk menyelamatkan kita dari kecelakaan.
Yang kita bicarakan di atas adalah keselamatan raga, selamat jasad. Ada keselamatan lain yang perlu kita konsentrasikan untuk kita pikirkan yaitu keselamatan ruh. Setiap saat kita ditantang untuk lebih mengutamakan keselamatan ruh kita apa kenyamanan raga kita. Para sahabat Nabi dari golongan lemah, budak dan orang-orang miskin diteror, ditindas dan disakiti agar mereka meninggalkan Islam. Namund mereka tetap memilih Islam. Mereka mempertaruhkan keselamatan raganya demi keselamatan ruhnya.
Usai perang Nabi membagi harta rampasan. Orang-orang yang baru saja masuk Islam justru diberi oleh Nabi harta lebih banyak. Beberapa pemeluk Islam yang lama yang punya andil besar terhadap perjuangan Islam justru kebagian sedikit. Mereka protes kepada Nabi. Padahal tujuan Nabi adalah, memberi orang-orang yang baru masuk Islam dengan harta yang banyak adalah untuk membesarkan hati mereka bahwa kaum Islam menerima dan mencintai mereka. “Sedangkan kau telah menerima cintaku.” kata Nabi. Cinta Nabi tidak sebanding dengan harta benda itu.
Cinta Nabi adalah keselamatan ruh, tidak bisa dibandingkan dengan harta benda untuk keselamatan raga atau jasad. Para sahabat bahkan menyumbangkan keselamatan raganya (harta) untuk kecintaan Nabi (keselamatan ruhnya). Untuk keselamat ruh kita kita perlu menjaga hati kita untuk kidak iri, dengki, menjaga tangan kita agar yang keluar dari mulut kita tidak menyakiti orang lain, orang-orang du sejeliling kita merasa selanat harga dirinya, hartanya karena keberadaan kita. Semoga kita meraih cinta Rosulullah.

Muhajir Arrosyid
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.