Majlis Maiyah Telatah Demak

ANDUM TRISNO NGUNDUH SELAMET

Tahun 2019 berakhir dan berlanjut ke tahun 2020. Orang-orang bersukaria merayakan pergantian tahun. Kadang kita tidak tahu alasan orang-orang merayakan pergantian tahun. Kalau mensyukuri ya memang kita mesti bersyukur atas nikmat Allah yang berlimpah-limpah kepada kita. Namun, merayakan dengan kegembiraan yang berlebihan adalah tindakan yang tidak terpahami.

Setiap saat kita patut bertanya, apakah tindakan yang kita perbuat itu nyancang (menambatkan ke tanah menggunakan tali) kepada dunia atau atas kesadaran bahwa perbuatan di dunia ini berlanjut, berkonsekuensi sampai akhirat.

Pada awal tahun 2020 ini Kalijagan mengangkat tema “Andum Tresno Ngunduh Selamet”, kira-kira dalam bahasa Indonesia adalah membagi cinta memanen keselematan. Secara sederhana dan nyata tema ini bisa dipahami dengan menyimak cerita berikut ini.

Di sebuah kampung ada dua orang kaya, orang yang satu rumahnya terbuka tanpa pagar hingga para tetangga tidak sungkan berkunjung ke rumahnya menikmati jajan yang dihidangkan, menikmati kopi, tanpa sungkan membaca koran. Orang yang satunya rumahnya tertutup, pagarnya tinggi. Ia takut sekali jika orang lain berkunjung ke rumahnya karena takut barang-barang berharganya hilang. Orang yang kedua ini terkenal pelit, tidak pernah berbagi, tidak pernah srawung dengan tetangga.

Namun rumah orang yang pertama selalu aman, ketika keluarga mereka bepergian dalam waktu yang lama para tetangga secara berkala menjaganya dari orang-orang yang bermaksud jahat. Sementara itu. Orang-orang cuek dengan rumah orang yang kedua. Mereka tidak peduli tentang kemanan rumah yang kedua.

Apa yang dilakukan oleh orang yang pertama itu kita kenal dengan pager mangkok, pagar mangkok lebih kuat dari pada pagar besi. Maksunya adalah jika punya masakan ia akan mengirim masakan ke tetangga semangkok-semangkok. Ketika kita kita mengirim cinta maka akan dibalas dengan cita pula.

Orang Jawa punya istilah “Ngunduh Wohing Pakarti” setiap orang akan terbalas dari perbuatan kita. Jika perbuatan kita buruk maka akan mendapatkan keburukan, sebaliknya jika perbuatan kita baik maka akan pula berbalas kebaikan.

Apa yang terurai diatas seolah-olah transaksional, melakukan apa maka akan dibalas apa. Padahal cinta itu tidak transaksional. Jika transakional maka bukan cinta namanya. Kita mencintai Allah dan Rosulullah itu adalah cinta tanpa alasan, tanpa mengharapkan imbalan surga, atau salat dhuha atas imabalan kaya. Cinta adalah kepasrahan total, ridha atas segala yang Allah berikan. Pada cinta seperti inilah ‘keselamatan’akan didapat.

Bagi orang yang menambatkan diri pada akhirat maka keselamatan adalah keberhasilan kembali kepada Allah, menyatu pada yang maha satu. Ia bisa menggunakan jalan kesitiqomahan apa saja, boleh tukang becak, ojek online, petani, pejabat, dari jabatan yang di mata dunia paling tinggi hingga paling rendah sama saja di mata Allah asal kita istiqomah dan menambatkan hati kepada Allah.

Nanti kita bisa selamat jika mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad. Amal kita tidak dapat diandalkan sama sekali, kita hanya memohon syafaat kanjeng Nabi. Nabi akan memberi syafaat kepada orang-orang yang sungguh-sungguh mencintanya, meneladaninya, dan mencintai sesamanya. Kalijagan edisi awal tahun 20120 ini mengangkat tema “Andum tresno ngunduh selamet”. Mari Sinau Bareng.

Redaksi Kalijagan
Majlis Masyarakat Maiyah Kalijagan Demak adalah bagian dari Majlis Masyarakat Maiyah Nusantara.