Majlis Maiyah Telatah Demak

Sarjawala

Mukaddimah Maiyah Kalijagan Demak edisi 3 Mei 2019

 

Demak termasuk kerajaan awal yang bersentuhan dengan Eropa. Persentuhan itu bermula ketika Nusantara sebagai pemasok(produsen) barang dagangan ke Eropa dengan kapal-kapal besarnya, yang kemudian menjadi tanah yang dipasoki(konsumen) Eropa. Momentum peralihan itu biasa kita kenal dengan titik balik atau arus balik tatkala Raden Pati Unus mengalami kekalahan. Kekalahan itu yang membuat kita sampai sekarang menjadi konsumen dari arus balik tersebut. Benarkah hal demikian itu? Jika benar, apakah kita sudah melakukan muhasabah(perhitungan), sejatinya kita ini bangsa produsen atau bangsa konsumen? Bangsa kalahan, bangsa menangan atau bangsa ngalahan? Itu yang perlu kita pertanyakan dan kita sinauni bersama.

Kedua, menyinggung Raden Pati Unus, tidak bisa kita melepaskannya dari salah satu gelar beliau saat memimpin armada gabungan melawan Portugis di Malaka. Gelar yang disematkan pada beliau ialah Sarjawala. Kamu tahu sarjawala itu apa? Atau sarjawala itu bagaimana? Begitu pertanyaan mendasar yang perlu kita pertanyakan bersama sebagai masyarakat Nusantara—lebih-lebih masyarakat Demak. Jika kita menarik masa sebelumnya lagi pada masa Kadiri, sarjawala disematkan pada Mpu Sindok, laksamana penjaga sungai Brantas. Berarti sarjawala merupakan tema kemaritiman, kelautan dan keairan.

Bukankah sejak dahulu, potensi utama kita sebagai bangsa Nusantara adalah hal-hal yang bersinggungan dengan kemaritiman? Apakah sedulur-sedulur sudah menyadari? Apalagi sebagai masyarakat Demak, yang geografisnya di pinggir pantai, menjadikan kita perlu sinau lebih dalam dan luas mengenai kemaritiman. Dan konon tahun 2030 air laut akan menutup sebagian tanah Demak. Apa sudah kita mempelajari segala sesuatu yang bersangkutpaut dengan air dan laut? Apa sudah kita mempersiapkan resiko terburuk, resiko terbaik dan segala resiko-resiko jika Demak—yang dahulunya selat— akan menjadi selat lagi?

Mbah Nun pada tahun 2014 sudah mengingatkan kita dalam Festival Banawa Sekar di Mojokerto, mengenai potensi kemaritiman kita yang belum digarap serius. Apakah kita sudah berdaulat atas laut, atas sungai, atas air yang dianugerahi Tuhan pada kita? Dimanakah posisi nelayan bagi masyarakat kebanyakan? Selain potensi agraris, kita mbok jangan sampai lupa pada potensi maritim kita. Sehingga pada dinas-dinas yang bersangkutan, anggaran begitu minim. Pada obrolan-obrolan kita tak terdengar gelegarnya. Pada seminar-seminar tak terjamah tematiknya. Pada kehidupan kita, teramat sangat terpinggirkan.

Ibarat kita yang ditakdirkan sebagai ikan, kita tak pernah belajar mengenai keikanan, kita malah sibuk belajar menjadi burung. Dengan begitu kiranya tepat jika kita sinau mengenai Sarjawala, setelah bulan lalu menelusuri Sayyidin Panatagama. Tema tersebut merupakan hal yang sudah ditakdirkan pada bangsa kita—khususnya Demak, sebab kita tidak diperkenankan untuk slenco dari takdir. Tentu kita sama-sama tidak begitu banyak referensi mengenai Sarjawala—Raden Pati Unus dan Kemaritiman. Maka betapa pentingnya sinau bareng Kalijagan edisi 3 Mei 2019 pukul 20.00 WIB di Universitas Sultan Fatah dengan tema Sarjawala untuk kita. Jika literatur tidak ada, maka kita yang patut menciptakan literaturnya. Jika kita tidak mengenali takdir, kita akan kelelahan mencapai tujuan—bahkan mungkin susah sampainya. Sampai jumpa. [HBA/ Redaksi Kalijagan.com]

Redaksi Kalijagan
Majlis Masyarakat Maiyah Kalijagan Demak adalah bagian dari Majlis Masyarakat Maiyah Nusantara.