Majlis Maiyah Telatah Demak

Ora Obah Ora Mamah

Anggap saja kerja itu sebuah laku dan pekerjaan itu sebuah institusi. Beberapa waktu yang lalu Om Budi Maryono menulis status kira-kira begini: “Bolehlah kita tidak punya pekerjaan yang penting kita tetap bekerja.”

Pekerjaan adalah institusi, kantor, status. Sedangkan bekarja bisa dimana saja dan kapan saja. Membaca status itu kita sadar bahwa ada orang yang punya pekerjaan tetapi tidak bekerja, dan ada orang yang tidak punya pekerjaan tetapi bekerja. Orang yang bekerja tetapi tidak punya intitusi kerja itu biasa disebut kerja srabutan.

Kebudayaan kita, Jawa punya sesuatu yang unik tentang pekerjaan. Seorang petani, bekerja di sawah dianggap tidak bekerja. Seseorang anak yang lama di kampung dan bekerja di sawah orang tuanya akan sambat kepada tamannya, “Anakku sudah lama menganggur di rumah, tidak bekerja.” Padahal anak itu rutin berangkat ke sawah setiap pagi dan sore.

Hal ini terjadi karena punya banyak kemungkinan, pertama karena bertani dianggap sebagai bagian hidup. Bertani melekat pada diri keluarga Jawa. Bertani adalah lumprahnya orang makan, minum, beribadah. Maka bertani, menanam, merawat itu bukan sebagai pekerjaan. Pekerjaan adalah ketika kita berangkat ke tempat pekerjaan, melakukan sesuatu berdasarkan perintah dan pulang membawa upah.

Bertani bagi masyarakat kita (dulu) adalah nafas, adalah kultur, dan rutinitas. Bedaya dengan pekerjaan adalah sementara, ia bisa berpindah-pindah tempat, masuk dan dipecat. Pekerjaan biasanya berseragam ada waktu jam kerjanya, beberapa tertekan, ada juga yang melakukan karena terpaksa, banyak juga tidak mencintai pekerjaannya. Mungkin inilah alasan ada orang yang punya pekerjaan tetapi tidak bekerja. Ia hanya bekerja ketika ada pengawasaan, jika tidak diawasi ia lari dari pekerjaannya. Tipe orang seperti ini adalah orang-orang yang hanya memetingkan honor, gaji atas pekerjaanya, bukan atas kerjanya.

Dilarangkah bekerja dengan keterpaksaan? Saya kira tidak, boleh dong sebernarnya kita masih malas, masih enak-enaknya tidur tetapi memaksa diri untuk bekerja, karena hidup tidak bisa dihidupi hanya dengan tidur. Anak tidak bisa dihidupi dengan mimpi-mimpi.

Ok, kita membali keajakan Om Budi di atas, kita boleh tidak punya pekerjaan asal jangan berhenti bekerja. Saya kira Om Budi mengingatkan tentang etos. Yang terpenting bukanlah pekerjaan, yang terpenting adalah kerja, apa saja. Karena yang akan menghasilkan adalah kerja. Istilah ekonominya adalah produksi, bekerja adalah memproduksi yang akan menghasilkan produk.

Kalimat itu bisa semacam tips bagi orang-orang yang tidak punya pekerjaan untuk entas dari kejombloaan pekerjaan. Karena sebuah institusi pekerjaan ini memang banyak orang lupa subtansi bekerja. Mereka berpikir hanya bisa bekerja jika punya pekerjaan, padahal mereka bisa bekerja di rumah dengan kemampuan yang mereka miliki.

Aku pernah membaca di bagian belakang truk, ora obah ora mamah, maksudnya jika tidak bergerak maka tidak akan makan. Meskipun hidup juga tidak melulu untuk makan. Kita punya ilmu dari leluhur bahwa ilmu iku kanti laku, kita melakukan dulu, jatuh dulu, gagal berkali-kali, baru ilmu itu menyatu dengan diri kita. Sayang sekali kita sekarang menjadi generasi template, yang menganggap cukup orang lain yang mencoba dan kita hanya menelusuri jejaknya dan memakainya saja. Kita kehilangan keberanian untuk melakukan.

Puncak dari keyakinan generasi template adalah menganggap pekerjaan sebagai jalan satu-satunya hidup. Orang rela menyuap, membeli pekerjaan itu dengan uang ratusan juta, mengabaikan dosa, mengabaikan Tuhan, Tuhan yang maha melihat itu tidak dianggap ada. Seolah-olah tanpa pekerjaan itu ia tidak bisa hidup. Pekerjaan tempat bergantung, bukan Tuhan tempat bergantung. Orang yang berkerja dengan cinta, di dalam pekerjaan atau pun bekerja srabutan akan lebih mengadakan Tuhan dalam langkahnya. Ketoe ngono.

Muhajir Arrosyid
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.