Majlis Maiyah Telatah Demak

Cara Lain Merayakan Tahun Baru

Reportase Majlis Maiyah Kalijagan edisi Jum’at Wage, 4 Januari 2019/ 27 Rabi’ul Akhir 1440 | Al Waktu KasSaif | bagian pertama

 

Januari sebagai bulan pertama dalam sejarah kekinian selalu ditandai dengan perayaan dan peringatan. Khususnya tanggal 1, hampir rata-rata manusia merayakannya dengan euforia—entah itu sebagai bentuk syukur atau bukan. Sementara fenomena lain dijalankan oleh sedulur-sedulur Maiyah Kalijagan. Ternyata ada cara lain untuk memperingati awal tahun. Mereka menjadikan momentum awal tahun sebagai bagian darinya. Mereka berkumpul di Universitas Sultan Fatah tidak tanggal 1, melainkan tanggal 4, sebagaimana rutinannya jum’at pertama awal bulan. Mereka berkumpul tidak bergembira dalam jajahan euforia, melainkan berdaulat atas diri mereka. Mereka berkumpul, bermunajat, bersholawat, bergembira dan bersenang-senang, asal Allah tidak marah. Mereka juga berkumpul untuk sinau bareng, nyinauni waktu, yang konon ada satu pepatah Arab mengibaratkannya sebagai pedang.

Pukul 20.00 WIB tepat, meski sound system mengalami kendala telat, mereka memulai maiyahan dengan Munajat Maiyah. Meski tempat masih lengang, mereka istiqomah memulai, waktu yang akan mengajarkan pada Jamaah. Bahwa berapapun orangnya, siapapun yang datang dan bagaimanapun kondisinya, Kalijagan harus berjalan. Tanpa pengeras suara, dipimpin Mas Yanto, Munajatan tetap khidmah dilaku Jamaah. “Ya Allahu Ya Mannanu Ya Kariim, Ya Allahu Ya Rohmanu Ya Rahiim.” terlantun secara serentak dari mulut-mulut Jamaah. Sampai usai munajatan, sound system baru datang. Sebelum masuk pada sesi sinau bareng dan bersenang-senang (lagi-lagi asal Allah tidak marah), jamaah saling bahu membahu menata sound system.

Waktu menunjukkan hampir jam 21.00 WIB, sound system sudah terpasang, Rebana Tanbihun melantunkan dua sholawat untuk memadatkan pikir dan rasa agar dalam satu padatan, serta mencairkan nuansa agar satu jamaah dengan jamaah lain saling mengenal dan nyawiji dalam cintaNya Allah dan kekasihNya, Muhammad. Waktu terus berjalan, perlahan jamaah memadati tempat parkir dalam Unisfat. Kang Ahyar, selaku moderator memulai sesi sinau bareng dengan mengatakan bahwa malam ini kita menegaskan Kalijagan tidak menyantumkan siapa narasumbernya dalam informasinya. Sebab kita semua yang hadir adalah narasumber yang harus berdaulat atas pengetahuan, ilmu, sikap dan langkahnya masing-masing, seusai maiyahan nanti. “InsyaAllah malam ini tidak hujan, sebab mangsane wis kelewat.” celetuknya, seolah mendoa, seolah mengabarkan bisikan langit. Nyatanya sampai Kalijagan selesai, satu pun air hujan tak ada yang membasahi wajah kami.

Selanjutnya, waktu dan mikropon diberikan kepada Mas Arafat untuk sedikit mengulas mukaddimah, yang nantinya ia juga akan menemani Kang Ahyar memoderatori sinau bareng. Sebelum memulai mukaddimah, Mas Arafat meminta jamaah untuk menyediakan waktu mendoakan kesembuhan Om Eko Tunas (sahabat Mbah Nun, 4 E) yang dirawat di RS. Tlogorejo, Kang Annas (Jamaah Kalijagan) yang sehabis kecelakaan di Purwakarta, dan ibunya Kang Ramadhanu (Operator Kegembiraan Kalijagan) yang sedang sakit. Kang Arafat menyampaikan Mukaddimah sebagaimana apa yang ia tulis di website Kalijagan.com. Selain itu tambahan-tambahannya hanya memancing jamaah, sedikit menguji sense humor jamaah. “Waktu KasSaif, kalau waktu ibarat pedang. Kalau engkau tidak lekas menemukan sarung pedangmu. Maka pedangmu akan lekas jamuren.” salah satu sentilannya.

Sebelum waktu dan mikrophon diberikan pada Gus Haikal, Kang Ahyar sedikit memantik Jamaah. “Soal waktu, kulo ada uneg-uneg soal rukun iman. Salah satu rukun iman ada percaya pada hari akhir. Itu kan soal waktu. Kok iso yo waktu harus diimani?” pantiknya, yang kemudian Rebana Tanbihun kembali mengajak jamaah bergembira, sebagaimana harap Kang Ahyar pertama saat membuka. “Kita berharap apa yang kita lakukan malam ini membuat Allah bergembira.” tuturnya tadi. Rebana Tanbihun kembali berdendang, jamaah kembali berdatangan, waktu terus berjalan. [HBA/ Redaksi Kalijagan.com]

Redaksi Kalijagan
Majlis Masyarakat Maiyah Kalijagan Demak adalah bagian dari Majlis Masyarakat Maiyah Nusantara.