Majlis Maiyah Telatah Demak

Dari Pantas Sampai Ummatan Wahidah

Reportase Majlis Maiyah Kalijagan edisi Jum’at Legi, 2 November 2018/ 24 Shaffar 1440 | Sing Sareh, Saleh! | bagian kesembilan

 

Usainya Rebana Tanbihun menyuguhkan satu nomor, Kalijagan ketamon Sedulur Semak Tadabburan Kudus. Salah satu dipersilahkan ke depan untuk sekadar balik menyapa jamaah Kalijagan. Ialah Kang Iwan Pranata yang mewakilinya. Sebelum Kang Iwan memulai menyapa dan mengudar tema sinau bareng, Kang Ahyar sedikit menengahi arus pemikiran dari beberapa pembahas malam itu. “Adil itu berat, tapi perlu.” tuturnya, sebelum mikrophon diserahkan pada Kang Iwan.

Kang Iwan memulai dengan pembahasan mengenai manusia yang merasa saleh, namun kalau dilihat dari cerminannya, dari cara mengemukakan pendapat, cara menghadapi serta menyikapi persoalan tidak menyarikan nilai saleh di dalamnya. Berlindung dibalik citra saleh, namun lelakunya lebih parah ketimbang yang tidak saleh. Padahal, manusia adalah makhluk yang berakal. Itu yang membedakan manusia dengan hewan. Kesalehan manusia karena akhlak dan akalnya, sementara kesalehan hewan ya begitu itu.

Selanjutnya, Kang Iwan sedikit menyitir apa yang pernah disampaikan Om Weldo (Jamaah Maiyah Masuisani Bali). Manusia terdiri atas tiga tataran: ruh, weruh dan kaweruh. Ketika kita mendekati geombang atas, ke arah ruh, kita menjadi sangat beriman, sangat dekat dengan Tuhan. Sebab ruh adalah suatu yang murni dari Tuhan, sampai-sampai terkadang tanpa kontrol akal, manusia berlebihan dalam melaku kesucian. Sehingga lupa pada kesalehan manusia, lupa pada kontrol sareh. Efeknya, gampang menyalahkan, gampang menghakimi, gampang memberi rapot manusia lain. Ketika manusia sudah melaku itu, artinya manusia mengambil alih hak dan wilayah Tuhan. Gelombang itu kalau tanpa keseimbangan weruh dan kaweruh, jauh sekali dari gelombang ruh.

Terakhir, beliau menyinggung perang hujat di dunia maya. Keseimbangan sejak dalam pikiran sangat diperlukan. Jamaah Maiyah jangan sampai ikut-ikutan dalam keberpihakan. “Saleh ya saleh, tapi ya lumrahnya manusia. Karena kita masih pada tataran yang berimbang.” tutupnya. Kemudian Kang Ahyar memberikan ruang kepada Gus Haikal untuk sedikit closing statement, secara bergantian dengan Kang War.

Bagi Gus Haikal, dalam hidup kita setidaknya memiliki pegangan konsep ikhtiar-tawakal-sabar. Setelah manusia ikhtiar, sudah melakukan sesuatu yang khair, manusia harusnya meletakkan pada sikap tawakal. Tawakal itu mewakilkan persoalan dan urusan manusia kepada Allah, yang mulanya menitipkan persoalan dan urusan itu. Kemudian baru bersabar, menerima apapun yang terjadi. “Kita jangan terjebak dengan ukuran dhohir. Orang yang terjebak ukuran dhohir adalah orang yang terburu-buru, cirinya gampang terpancing. Jadi jangan terburu-buru merespon sesuatu apapun.” pungkasnya, yang kemudian mikrophon diulurkan pada Kang War.

Ummatan wasathon belum selesai. Harus diteruskan sampai menjadi ummatan wahidah, umat yang bersatu. Karena itu adalah tauhid yang paling nyata dalam kehidupan kita. sebab tauhid adalah meng-Esa-kan, menjadikan Allah sebagai faktor utama dan satu-satunya yang menentukan semua fenomena, gejala yang ada dalam diri kita dan sekitar kita.” pungkas Kang War menyudahi sinau bareng malam itu. [Ajib/ Redaksi Kalijagan.com]

Avatar photo
Majlis Masyarakat Maiyah Kalijagan Demak adalah bagian dari Majlis Masyarakat Maiyah Nusantara.
  • Kum