Majlis Maiyah Telatah Demak

Kepantasan

Reportase Majlis Maiyah Kalijagan edisi Jum’at Legi, 2 November 2018/ 24 Shaffar 1440 | Sing Sareh, Saleh! | bagian kedelapan

 

Saking kangennya Kang War malam itu, barangkali beliau lupa bahwa tema yang diangkat Kalijagan November adalah ‘Sing Sareh, Saleh!’. Sehingga pembahasan beliau masih ada lagi. “Diam adalah emas, tapi berkata yang baik dan benar adalah intan berlian” tutur Kang War pada sesi merespon beberapa pertanyaan Jamaah. Barangkali sebagai sambungan bahwa malam itu, yang mestinya beliau sareh, namun untuk berlaku baik tidak perlu sareh. Asalkan mengetahui kepantasan yang berlaku bagi sesama jamaah Maiyah yang teramat kangen, khususnya Kang War pada Maiyah Kalijagan.

Mengenai kepantasan, selanjutnya Kang War menyinggung kesalehan, sebab sareh rumusnya berbanding lurus dengan menghasilkan manusia-manusia yang saleh. Sementara itu, mengenai dimensi saleh itu teramat luas. Pendapat orang-orang, baik dia ulama mu’tabaroh, cendekiawan muslim, ustadz maupun preman sangat beragam. Kang War hanya mengambilkan dua pengertian saja malam itu. Pertama, saleh itu kemampuan manusia dalam melakukan tindakan yang presisi, serta sudah menempuh serangkaian tahap, simulasi, internalisasi dan muhasabah yang matang. Kedua, makna secara bahasa yang artinya pantas, kepantasan.

Begitulah kesalehan yang perlu kita pahami. Sebab dimensi saleh, tidak melulu pada term hablu min Allah saja, lebih dari itu, hablu min Annas adalah bagian dari dimensi saleh. Banyak manusia yang kurang menggarap kepantasannya dengan manusia. Namun dengan bangganya, kepantasan dengan Allah didengung-dengungkan. Padahal kepantasan dengan Allah adalah manusia yang berkenan memantaskan diri dengan manusia dan makhluk lainnya. Sebab Allah sendiri memuliakan manusia dan menyayangi makhluk-makhluknya. Kalau kita sudah pantas maka dengan sendirinya saleh menjadi pijakan sensor sadar kita. melakukan tindakan yang presisi dan proporsional. Sementara itu proporsional satu sama lain yang berbeda adalah rahmat yang telah Allah anugerahi pada kita.

“Silahkan anda temukan presisinya, kepantasan-kepantasan di bidang masing-masing, sehingga saleh dan sareh itu tidak hanya urusan dimensi hablu min Allah. Tetapi juga hablu min Annas. Tidak hanya di hadapan Allah tetapi juga semua makhluk di semesta ini khususnya kebermanfaatan kepada sesama manusia.” tutup Kang War dalam pemaparan yang teramat intan berlian. Jadi jangan berkecil hati, kalian yang belum dianggap saleh oleh masyarakat, oleh rakyat bahkan oleh media televisi maupun online. Sebab yang mampu menakar kepantasan itu adalah individu masing-masing. Pokoknya tidak melulu begitu.

Sebelumnya Kang War juga menyinggung Kanjeng Nabi yang terus hidup menemani perjalanan kita. Sebelum Kanjeng Nabi wafat secara fisik, beliau selalu memikirkan nasib kita. Bahkan kata-kata yang terus terucap sebelum beliau wafat ialah ummaty —  umatku. Dari sana, jangan sampai kita tertipu bahwa yang wafat, sudah wafat beneran. Sebab hakikatnya, siapa pun yang wafat — apalagi Kanjeng Nabi yang paling saleh diantara makhluk-makhluk Allah — di jalan Allah, dia masih hidup. “Sampai sekarang (Beliau) masih bertugas lho. Manusia paling kinasih kok diberi umur cuma 63 tahun” kata Kang War. Jadi kepantasan kita saat ini adalah, sering-sering menyapa Beliau, Kanjeng Nabi. Sering-sering sholawatan serta meneladani Beliau. Sebab terlampau sering, ada momentum orang tua, para pendahulu turun tangan, menyapa kita, menegur kita, hanya kita tak menyadarinya.

Demi menyapa para leluhur dan meneladani Kanjeng Nabi yang mencintai tanah airnya, satu nomor ‘Ya Lal Wathon’ mengiringi transisi pantulan cahaya dari Kang War pada cermin cahaya ilmu lainnya. Rebana Tanbihun menabuh genderang pusaka, ‘Ya Lal Wathon’ berirama. Cinta negara adalah kepantasan manusia yang ditakdirkan lahir dimana bumi yang menyaksikan kelahirannya dan menyaksikan tiap langkah pijakannya. [Ajib/ Redaksi Kalijagan.com]

Avatar photo
Majlis Masyarakat Maiyah Kalijagan Demak adalah bagian dari Majlis Masyarakat Maiyah Nusantara.
  • Kum