Majlis Maiyah Telatah Demak

Hal Yang Harus Dijaga Manusia

Reportase Majlis Maiyah Kalijagan edisi Jum’at Legi, 2 November 2018/ 24 Shaffar 1440 | Sing Sareh, Saleh! | bagian keenam

 

Masih dengan apa yang disampaikan Kang War malam itu. Dalam paparan lanjutannya, beliau menyinggung orang yang kerap menanyakan dalil-dalil sebelum melakukan suatu laku yang dikiranya tidak ada di zaman Rasulullah. Mestinya hal-hal seperti itu tak perlu dipertanyakan lagi oleh manusia yang sudah diberi akal oleh Allah, khususnya jamaah Maiyah, yang sudah dibekali Mbah Nun dengan pemahaman dalam memahami ibadah. Bahwa ‘apa-apa yang mahdloh itu selama tidak ada perintahnya jangan lakukan dan apa-apa yang muamalah selama tidak ada larangan, lakukanlah’. Sebegitu simlpenya namun masih banyak yang sibuk dengan persoalan-persoalan semacam ini. Kuno bukan?

Lalu Kang War bercerita mengenai proses pembuatan Pancasila yang waktu itu sudah tercium politik identitas. Mengenai sila pertama, banyak masyarakat di luar Islam yang menentang. Kemudian Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari diminta untuk merevisi. Dalam proses revisi teks Pancasila, beliau tirakat. Bentuk tirakatnya berupa sholat dua rekaat. Dalam rekaat pertama setelah surat Al Fatihah, beliau membaca surat Al-Kahfi sebanyak 40 kali. Sementara dalam rekaat kedua beliau membaca surat At-Taubah sebanyak 40 kali. “Kalau orang yang mendapat gelar kutubus sittah, yang hapal beribu hadist macam Beliau, apakah Anda berani menanyakan dalil mengapa Beliau melakukan itu?” tanya Kang War kepada jamaah, kepada orang-orang yang sering nyinyir terhadap amaliyah masyarakat Islam grassroot.

Setelah itu jadilah sila pertama yang berbunyi ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’. Yang sampai sekarang kita tahunya itu. Sila tersebut sudah sesuai syariat Islam. Jadi tidak perlu ditambahi ‘kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’. “Tataran yang seperti apa, orang kok bisa mencapai pada maqam itu. Ini tidak mudah.” lanjut Kang War.

Sementara itu, dalam paparan sebelumnya, Gus Haikal sudah menjelaskan perkara wudlu. “Bahwa berwudlu tidak hanya aktifitas fisik atau material saja” jelasnya. Buktinya, kata Mbah Nun kalau kita sudah berwudlu dan kita kentut, kenapa yang dibasuh muka? Kenapa yang dibasuh bukan dubur? Sebab yang dijaga adalah martabat dan kehormatan yang disimbolkan dengan muka. Beranjak dari Gus Haikal, Kang War juga menyinggung persoalan aji/martabat. “Kajian, aji dan kaji itu beda” kata Kang War. Kajian biasanya berlaku dalam dunia akademis dan bahasannya pada wilayah kognitif, yang bersifat wawasan serta pengetahuan. Makanya orang berpengetahuan itu disebut orang pintar.

Sebab saking banyaknya orang pintar, tak heran jika banyak gejala dan peristiwa yang menandai sedang adanya sikap manusia yang saling adu pintar. Agar terlihat pintar, dia membenarkan dirinya yang merasa pintar dan benar serta menyalahkan lainnya, agar kebenarannya semakin mutlak benar. Padahal kebenaran yang disampaikan orang pintar itu belum tentu benar. Sebab benar itu ada menurutnya sendiri, benar komunal dan benar yang sejati. “Manusia bisa menyentuh kebenaran menurutnya sendiri dan kebenaran komunal, tapi mungkin tidak banyak orang yang diperjalanankan sampai mencapai kebenaran yang hakiki. Sehingga ia menempuh proses memakrifati.” jelas Kang War.

“Orang berilmu harusnya itu berbanding lurus dengan tingkat keadaban” lanjut Kang War. Mestinya setelah lulus ta’lim/kajian jangan berhenti. Namun melanjutkannya ke jenjang ta’dib/ pengadaban/ pengajian. Sementara itu, definisi pengajian hari ini yang dimaksudkan manusia secara umum hanya terbatas pada ta’lim. “(Maiyah Kalijagan) Ini bukan pengajian” tandas Kang War menjadi antitesis dari pengertian pengajian yang dimaksudkan masyarakat umum, bahwa pengajian itu yang sebagaimana televisi tayangkan. Kedua, menjadi kerendahan sikap Jamaah Maiyah, bahwa masyarakat Maiyah belum aji, namun mau berproses menjadi aji. “Orang yang beradab dalam perjalanan selanjutnya jika beruntung maka didudukkan pada level arif — ma’rifat” lanjut Kang War.

Beliau juga menyinggung makna Kalijaga yang disematkan pada Raden Syahid. Bagi Kang War itu adalah simbol aliran yang ada dalam tubuh kita. “Hidup adalah mengalir dan bergetar.” lanjutnya menyitir pepeling Mbah Nun tiap kali Maiyahan berlangsung bersama beliau. Karena yang berjalan pada metabolisme tubuh kita itu memang terdiri atas aliran dan getaran. Aliran menghasilkan metabolisme darah kita, berputar dan bersirkulasi. Bahkan kita kencing pun mengalir. Sementara getaran beliau katakan bahwa “Kalau tidak ada unsur getaran, gendang telinga anda tidak akan bisa menerima frekuensi suara. Kalau tidak ada getaran, neuron-neuron (sistem saraf dalam otak) anda tidak akan ada koneksitas seperti itu”. Kalijaga adalah aliran yang harus dijaga dalam tubuh kita.

Kemudian beliau juga menceritakan tentang keunikan Islam yang ada di Indonesia. Cerita bermula dari para pedagang hingga berlanjut sampai zaman Walisongo. Walisongo bagi Kang War adalah hawa sembilan yang harus dijaga dalam tubuh kita sendiri. “Nek ora ono bolongan songo kui. Uripmu kacau” kata Kang War, yang kebetulan memakai kaos bertuliskan ‘Kafire dewe gak digatekke’ — sebuah kutipan dari Syi’ir Tanpo Waton gubahan Gus Dur, yang sering juga dimainkan Kiai Kanjeng dalam pementasan dan sinau bareng. Sementara yang di belakang tertulis kutipan dari Mbah Nun “Aku menyebut diriku muslim saja tidak berani, karena itu merupakan hak preogratifnya Allah, untuk menilai aku ini muslim atau bukan”.

“Kalau semua yang mengalir dan bergetar lewat lubang itu bisa dijaga. Predikatnya adalah manusia pada tataran Auliya. Yang La khoufun alaihim wa la hum yahzanun, orang yang tidak punya rasa khawatir, yang tidak punya rasa takut kepada siapapun kecuali Allah yang memang menciptakan semuanya.” terang Kang War mengurai Walisongo dalam diri kita. [Ajib/ Redaksi Kalijagan.com]

Avatar photo
Majlis Masyarakat Maiyah Kalijagan Demak adalah bagian dari Majlis Masyarakat Maiyah Nusantara.
  • Kum