Majlis Maiyah Telatah Demak

Darurat Sebelum Memasuki Ruang Sareh

Reportase Majlis Maiyah Kalijagan edisi Jum’at Legi, 2 November 2018/ 24 Shaffar 1440 | Sing Sareh, Saleh! | bagian pertama

 

Ada saatnya Anda akan menghadapi situasi rancau, yang memojokkan Anda ke sudut paling gelap dan pengap dari kejernihan berpikir dan kelapangan dada. Yang mana situasi menuntut Anda untuk harus segera bersikap. Tapi reaksi yang tiba-tiba biasanya juga malah menimbulkan masalah lain. Lalu sikap yang paling bijaksana bagaimana? Tema “Sing Sareh, Saleh!” ini diangkat untuk kita cari bersama bagaimana menyikapi situasi dengan cara paling bijaksana. Agar tidak muncul chaos (kekacauan), yang akan berdampak tak hanya bagi si pengambil keputusan tetapi juga orang-orang di sekitarnya (seperti episentrum).

Tema yang lugas dan tegas dengan adanya tanda seru. Menjadi suatu sikap Jamaah Maiyah yang mesti ‘sareh’ di tengah era keberpihakan. Juga pemakaian bahasa Jawa yang nyaris dilupakan generasi milenial. Menjadi suatu ruang merawat kosakata agar tidak begitu saja hilang. Beberapa tema Kalijagan memakai bahasa Jawa diantaranya, seperti, ‘Agama, Ageman, Gaman’ di bulan Januari 2018, ‘Menang Tanpa Ngasorake’ di bulan Mei 2018 dan ‘Budi Taruna, Taruna Wijaya’ di bulan Juli 2018. Hal itu menunjukkan sikap bahwa Jamaah Maiyah harus ‘Jawa digawa’.

Setelah kita bermunajat, menautkan energi dan cinta, agar apa-apa yang diterima adalah cahaya dari Allah dan kekasihNya, Muhammad, Kang Hajir menyampaikan mukaddimah edisi November 2018. Beliau menyampaikan bahwa di Kalijagan yang datang dilatih untuk merasa seperti di rumah sendiri. Dulu waktu awal-awal, semua diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri, agar merasa tak asing. Sekarang yang datang dipersilakan mengambil kopi dan cemilan, anggap saja seperti di rumah sendiri.

“Di dalam diri orang yang sareh, ada kasih sayang. Dia tahu kapasitas kemampuannya, tahu kebesarannya. Dengan tidak membalas apa yang dilakukan orang yang mengejeknya.” kata Kang Hajir pada sesi mukaddimah, sebelum lagu ‘Tombo Ati’ didendangkan bersama Dannu Sakkonco.

“Semoga dengan ‘Tombo Ati’ tadi, untuk bercermin kita semua, agar selalu membersihkan hati kita masing-masing.” kata Kang Ahyar mengajak jamaah merajut makna, persambungan peristiwa, fenomena dan nuansa. Sholawat dilantunkan kembali. Sudah menjadi rutinitas di Kalijagan, dua atau tiga sholawat akan dilantunkan sesudah sesi mukaddimah dan sebelum sesi diskusi, sinau bareng. Munajat dan sholawat menjadi sarana untuk sedikit melepas kerinduan kami kepada Kanjeng Nabi. Bahkan di sesi seperti ini, mungkin juga sebagai ruang merangkai ide dan gagasan, apa yang akan dibahas nantinya. Pun supaya suasana menjadi gembira, agar apa-apa yang diberikan dan diterima menjadi tetes ilmu bagi siapapun.

“Mohon dimaafkan soalnya vokal darurat. Tapi kerennya darurat itu masih bisa jalan, biar pun tidak ada vokal utama,” tutur Kang Ahyar memberi sedikit pengertian perihal vokal rebana Tanbihun yang bukan vokal biasanya. Lalu beliau membuka ruang diskusi, sinau bareng, perihal ‘sareh’. [Ajib/ Redaksi Kalijagan.com]

Avatar photo
Majlis Masyarakat Maiyah Kalijagan Demak adalah bagian dari Majlis Masyarakat Maiyah Nusantara.
  • Kum