Majlis Maiyah Telatah Demak

Pantang Menyerah Nandur Kebecikan

Reportase Majlis Maiyah Kalijagan edisi Jum’at Kliwon, 7 September 2018/ 27 Dzulhijjah 1439 | Generasi Tandur | bagian kedua

 

Semenjak petang, sekitar pukul 17.00 WIB, Demak mendung dan jalanan mengalami kemacetan yang parah. Ke arah Semarang kemacetan sampai memenuhi jalan lingkar, dari arah Semarang kemacetan hingga Onggorawe. Hal tersebut dikarenakan ada pembangunan jembatan di Kali Kondang yang dimulai sore itu.

“Posisi?” tanya para penggiat di group whats’app. Kami sadar, kemacetan menjadi tantangan pada gelaran Kalijagan yang akan terselenggara malam itu. Para penggiat, mobil untuk sound system akan terhambat mencapai lokasi, Universitas Sultan Fatah.

Ndelalahnya, Kang Ajib, Kang Annas, Kang Yaqin, dan beberapa penggiat lain sudah di lokasi pada saat menjelang magrib. Mereka bahu-membahu menggelar tikar, memasang lampu, backdrop serta dapur untuk memasak kopi. Semua sudah beres, tinggal menunggu waktu.

Dan akhirnya yang tidak diantisipasi datang juga. Menjelang pukul 20.00 WIB waktu yang diagendakan untuk memulai, pet, listrik padam. Hingga pukul 20.00 WIB listrik belum juga menyala. Berhubung para pembersama, Mas Nadhif, Mas Budi, dan Mas Sidiq sudah hadir maka kami mulai dengan Munajat Maiyah. Meski keadaan gelap gulita, hanya sedikit cahaya yang kemelelat dari kendaraan di Jalan Raya Pantura saja. Kami membayangkan masa lalu ketika listrik belum hadir di tengah-tengah peradaban manusia.

Pukul 21.00 WIB listrik belum menyala juga. Mukadimah telah disampaikan Kang Muhajir. Lalu Mas Sidiq dari Komunitas Lumbung Tani memulai dengan merefleksi kekurangan Demak dalam pertanian. Demak tidak memiliki brand, namun kita punya padi. Itulah yang menyebabkan padi kita ditolak di Jakarta dengan alasan kurang putih dan kusam, bukan alasan brand.

Sementara itu, Mas Nadhif yang mengudar materi setelah Mas Sidiq, balik menggarisbawahi laku masyarakat kita. Lahannya mahal, hasilnya tidak menentu ‘tapi kok isih dilakoni’? Mengapa begitu? Menurut beliau, karena leluhur kita itu falsafah hidupnya, hidup untuk kontribusi. “Jadi tak usah pikirkan untung rugi, yang penting kita menanam.” Pungkas Mas Nadhif di sesi pertama mengingatkan kita pada leluhur yang tak pernah berhenti menanam harapan.

Sampai berlanjut ke pembersama ketiga, Mas Budi listrik belum juga menyala dan air satu-satu jatuh dari langit. Mula-mula jarang, semakin lama semakin deras. Selain itu, halaman kampus Unisfat yang dekat dengan jalan Raya Pantura memaksa kami untuk ekstra mengaktifkan sensor pendengaran, sebab tanpa alat bantuan microphon ketiga suara pembersama kalah oleh suara kendaraan di jalan raya yang lebih kencang frekuensi gelombangnya. Langkah harus segera ditentukan.

Kami pindah ke dalam, ke area parkir VVIP. Semua barang diangkut ke sana, alas, sound system, alat rebana dan lainnya. Hujan ternyata sebentar saja, reda ketika kami sudah berpindah tempat. Namun listrik masih padam. Kami berinisiatif untuk mengambil genset milik teman, agar mengurangi energi jamaah dalam hal mendengar dan pembersama dalam hal mengudar ilmu. Meski begitu banyak halangan, rintangan—atau jangan-jangan itu yang dinamakan sapaan langit pada penduduk Bumi yang memancarkan cahaya cinta ke langit— kami selalu dan sedang nandur harapan. Jangan sampai hanya sapaan sedikit dan kecil semacam itu mengalahkan niat kita untuk menanam kebecikan. [Redaksi Kalijagan.com]

Avatar photo
Majlis Masyarakat Maiyah Kalijagan Demak adalah bagian dari Majlis Masyarakat Maiyah Nusantara.
  • Kum