Majlis Maiyah Telatah Demak

Menang Ikut Ketetapan Allah

Reportase Majlis Maiyah Kalijagan edisi Jum’at Wage, 4 Mei 2018/ 18 Sya’ban 1439 | Menang Tanpa Ngasorake | bagian pertama

 

Kalijagan bulan mei untuk sementara berkelana lagi, dari halaman Masjid Agung Demak ke Kampus Universitas Sultan Fatah Demak. Seperti biasa, pukul 20.00 maiyahan dimulai dengan munajat maiyah, sholawatan bersama kang Zaul Haq, kang Ahyar dan Rebana Tanbihun.

Setelah itu Kang Hajir, sedikit memberitahukan kepada JM bahwa perpindahan dan pemilihan tempat di Unisfat adalah ketentuan Allah yang perlu kita syukuri. Beliau juga menuturkan bahwa kita menghormati Universitas Sultan Fatah tidak hanya menghormati orang-orang yang ada di dalamnya atau yang mendirikannya. Tetapi juga menghormati Sultan Fatah sebagai raja pertama Demak. Sebelum diserahkan kepada moderator, kang Ahyar, beliau berharap semoga tempat ini berkah dan semoga lembaga ini pun berkah karena menyediakan ruang bagi para pecinta Rasulullah yang jiwa dan pikirannya tidak mau dimanipulasi dunia.

Lalu kang Ahyar membuka sesi sinau malam itu dengan menyapa para JM dan mempersilakan mas Arafat menyampaikan mukadimah. Mas Arafat memulai dengan mengisahkan cerita yang ditulisnya di mukadimah paragraf awal. Kemudian Ia mengatakan bahwa kita harus kembali mengingat pesan Sunan Kalijaga “Menang Tanpa Ngasorake”, yang dijadikan tema Kalijagan. Dalam konstelasi apapun kita harus mengedepankan nyengkuyung bareng, bukan saling menyakiti, saling mencaci. Apalagi kalau sampai pada puncak saling merendahkan satu sama lain. Ia juga menyentil kita bahwa jangan-jangan kita tidak paham apa arti menang itu, lalu untuk apa kita setiap hari lima waktu mengumandangkan mari menuju kemenangan “Hayya Alal Falah”?

Mas Arafat mengajak kita merenungi arti menang sesungguhnya. Jika menang berhubungan dengan peperangan, maka perang terbesar adalah menang atas nafsu diri sendiri seperti yang pernah disampaikan Nabi Muhammad seusai perang badar. Kalau memang begitu, ramadlan nanti adalah ruang untuk kita menjadi manusia yang meraih kemenangan itu. Kemenangan melawan diri sendiri, melawan nafsu dari dalam, bukan dari luar. Kalau sudah menang, maka kita layak mendapatkan kefitrian, kesucian, idul fitri. Itukah menang tanpo ngasorake yang sebenarnya?

Mas Arafat menutup mukaddimahnya dengan pertanyaan untuk kita jawab bersama-sama di malam itu. Atau barangkali, kita pulang dari maiyahan hanya mendapatkan pertanyaan saja? Sebab sebagaimana yang dituturkan Kang Hajir sebelumnya, bahwa yang selalu dibawa sedulur-sedulur Kalijagan adalah kebodohan, kemiskinan dan kerendahan. Karena kepandaian, kekayaan dan kesombongan hanyalah hak dan milik Allah. [Ajib Zakaria/Redaksi Kalijagan.com]

Majlis Masyarakat Maiyah Kalijagan Demak adalah bagian dari Majlis Masyarakat Maiyah Nusantara.