Majlis Maiyah Telatah Demak

Desa yang Hilang dan Bule yang Menyesal

Reportase Majlis Maiyah Kalijagan edisi Jum’at Legi, 6 April 2018/ 20 Rajab 1439 | Desa Purwa | bagian ketiga

 

“Mengenai tema “Desa Purwa” saya jadi teringat bukunya Mbah Nun di tahun 70an, berjudul “Indonesia Bagian Dari Desa Saya”. Kenapa saya mengingat itu, karena desa di tahun-tahun itu mulai dimasuki industrialisasi berupa televisi yang masuk desa, orang desa mulai menonton televisi, menonton iklan dan hal-hal yang tidak mereka pahami. Begitu juga, banyak tradisi di desa yang mulanya subur mulai hilang, misalnya ngaji, dziba’an, manaqiban sudah tergantikan dengan nonton televisi—kalau sekarang bermain gadjet. Begitu halnya ronda malam yang sudah punah.” Tutur kang Muhajir Arrosyid guna memantik pembicara agar keluar kisah dan piwulangnya. Begitu juga jamaah agar tersentil untuk berpikir jauh ke masa lalu dan menggali substansi dari sesuatu yang hadir saat ini.

Sementara itu mas Nadhif Alawy, yang setia menemani Kalijagan semenjak di pelataran Masjid Agung Demak, mengajak sedulur-sedulur untuk mengingat masa kecil masing-masing. Mas Nadhif menuturkan bahwa beliau sudah tidak merasakan desa sewaktu ia kecil saat ini. Suasana anak-anak yang bermain tengklek dan mainan lainnya bersama, suasana sosial, guyub, gotong royong dan sambatannya yang mulai hilang. Beliau pun menyentil kita mengenai sambatan itu apa yang sudah tidak diketahui anak-anak sekarang, tahunya hanya sambat.

Beliau melanjutkan dengan kisah seorang sahabatnya, bule asli Licester, Inggris yang menyesal meninggalkan desa, tepatnya Ngaglik, Sleman di tahun 70an. Sebab ketika sahabatnya di Indonesia, ia bisa menikmati suasana pasar tradisional desa bersama ibunya. Sementara ketika di Inggris, ia hanya bisa menjumpai minimarket yang tidak menawarkan persaudaraan, perkenalan dan kehangatan sesama manusia. Ketika pulang dari pasar, dengan jarak 2 kilometer, ia nikmati suasana ngobrol asik bersama ibunya secara tenang tanpa banyak kendaraan lalu lalang serta rimbun pohon yang masih asri dan sejuk memayungi. Hal tersebut tidak ia temukan di Inggris. Sahabatnya sangat menyesal pergi dari Indonesia, sementara masyarakat Indonesia hari ini begitu mendamba dan bahagia dengan Inggris.

Kisah yang berbanding terbalik diceritakan kang Ahyar sebelumnya di sesi pertama. Ketika sahabatnya dari Semarang bermain ke desanya, bukannya menikmati kesunyian dan keasrian sebagaimana surga. Malah mempertanyakan “kok sepi”, “kok hening”, “kok tidak ada signal”. Sahabatnya lebih menyukai surga dengan hingar bingar suara dan keramaian sebagaimana bar dan lounge, dan berisiknya suara kendaraan yang berlalu lalang.

Sementara Cak Noeg mengajak sedulur-sedulur untuk mendesakan kota serta melarang mengkotakan desa, sebab masyarakat kota sudah rusak. Beliau juga menegaskan bahwa ketika kota sudah masuk desa, maka hormat pada sadar diri akan tiada dan memuliakan rasa malu akan hilang. [HBA/Redaksi Kalijagan.com]

Avatar photo
Majlis Masyarakat Maiyah Kalijagan Demak adalah bagian dari Majlis Masyarakat Maiyah Nusantara.
  • Kum