Majlis Maiyah Telatah Demak

Memahami Air, Menyelamatkan Bumi

Reportase Majlis Maiyah Kalijagan edisi Jum’at Pon, 9 April 2018/ 21 Jumadil Akhir 1439 | Demakiyah: Sinau Miline Banyu | bagian ketiga

 

Sebelum berlanjut ke pembicara selanjutnya, pada maiyah Kalijagan di pelataran Masjid Agung Demak (9/3) kelompok rebana Tanbihun dan Danu Band mengajak hadirin bersholawat sejenak. Sholawat “Ya Habibal Qolbi” yang pada waktu itu dilantunkan. Sebelum itu ada kejadian lucu, yaitu salah satu alat pemukul terbang kesingsal sampai diumumkan ke jama’ah siapa tahu ada yang melihat. Selesai bersholawat hadirin kembali mendengarkan paparan pembicara, sekarang giliran mas Eko menyampaikan paparannya.

Sedikit perkenalan dari mas Eko, beliau asli Yogyakarta dan sekarang tinggal di Kediri. Beliau sekarang meneliti tentang “Demak ambles”. Dia memulai dengan menjelaskan filosofi air, bahwa air itu mengalir dari atas ke bawah dan selalu mengisi suatu tempat yang kosong. “Daerah pesisir itu dihantam air dari gunung dan laut. Dan pesisir Demak perlu perhatian khusus, karena Demak adalah kasus kedua setelah Jakarta”. kata mas Eko.

Dia dan koleganya sedang mencoba menelusuri isu bahwa dua daerah ini akan tenggelam pada tahun 2030, benar atau tidak isu ini sedang mereka telusuri.

Dia menceritakan sejarah, tentang Demak yang pada abad delapan yang masih berupa selat. “Dulu itu kalau dari Semarang mau ke Kudus dan Jepara lewat Demak menggunakan perahu-perahu besar, kotanya ada di pesisir”, kata mas Eko.

“Dan pada abad sembilan, perahu-perahu mulai kesulitan untuk melewati selat Demak. Sampai pada abad 17 terjadi sedimentasi (penumpukan lumpur), dan pada saat itu mulai tumbuh tanaman mangrove”, lanjut mas Eko. Beliau menceritakan pada tahun 1740 pada peta Hindia Belanda yang dimiliki Belanda, waktu itu wilayah Demak 14 ribu hektare semuanya ditutupi mangrove.

“Lalu kalau dari sisi air, Demak sebenarnya tidak kekurangan air bersih. Lalu kenapa Demak kesulitan air bersih? ya karena tidak adanya distribusi yang seimbang. Jadi tidak akan pernah seimbang bila industri terus mengambil air tanah”, tutup mas Eko.

Lalu kang Ahyar selaku moderator berterima kasih atas data-datanya dan sudah mau memikirkan masa depan Demak, karena orang asli Demak juga belum mengetahui ini. Ia menanggapi “Di daerah saya belum pernah banjir karena air sungai mengalir kalau tidak mengalir akan jadi banjir, begitu juga dengan kekayaan kalau tidak mengalir hanya akan menjadi data.” kata kang Ahyar.

Lalu setelah itu ada sedikit kelakar dalam diskusi agar suasana tetap santai. Sampai mas Fahrudin dipersilahkan bercerita tentang perubahan yang terjadi mengenai daerahnya. Ia menceritakan bahwa dulu waktu dia masih kecil masih sempat menikmati bermain di tanggul sungai tapi sekarang sudah tidak ada lagi tanggul sungai, tak lagi tinggi seperti dulu.

Usai mendengarkan cerita mas Fahrudin, ada kuis dengan hadiah kaos. Salah satu tamu istimewa yang menemani juga mendapat kaos. Siapa tamu itu? sudah diceritakan mas Arafat dalam esainya beberapa hari yang lalu.

Kemudian kang Ahyar mempersilahkan tiga orang untuk bertanya. Penanya pertama adalah mas Anam, dia berasal dari desa Wonorejo kecamatan Guntur. Ia menceritakan bahwa di desanya kadang susah menemukan air, bahkan saat kemarau sungai tidak mengalir. “Kalau kita belajar tentang miline banyu air itu menimbulkan masalah, padahal air berhenti mengalir saat kemarau, lalu bagaimana menyikapi miline banyu?”, tanya mas Anam.

Mas Nadhif mencoba menjawab pertanyaan mas Anam, dengan menegaskan kita sedang sinau bareng dan bukan berarti yang di depan itu lebih mengerti. “Kita tadi bukan mengatakan air menimbulkan masalah, karena kita belajar bagaimana menyikapi air. Belajar bagaimana air itu tidak menjadi masalah, bahkan saat banjir tidak jadi masalah. Yang salah manusia karena tidak pas memperlakukan air.” kata mas Nadhif mencoba meluruskan.

“Jadi bagaimana kita belajar ini bagaimana bisa menikmati air sepanjang tahun, tidak hanya saat musim penghujan. Jadi bila daerah Anda jauh dari aliran sungai ya harus menyesuaikan, jangan ditanami padi misalnya. Mau tidak mau kita harus mengenali lingkungan dan beradaptasi dengan kondisii yang ada.” lanjut mas Nadhif.

Pertanyaan selanjutnya dari mas Erdi, ia menanyakan apabila Demak tenggelam apakah kita akan kembali dengan model rumah panggung? Mas Nadhif menanggapi pertanyaan ini bahwa tolak ukur tenggelam adalah pusat kota Demak. “Bila keadaan seperti ini dibiarkan berlarut-larut bukan tidak mungkin, prediksi itu terjadi. Intine ikhlas wae mas, seperti orang pesisir bila mau ikhlas tambaknya dikembalikan seperti dulu sebelum musim udang windu, dan ditanami mangrove, insyaallah tenggelam tidak akan terjadi. Karena mangrove setebal 200 meter bisa mengabsorpsi air laut. Sebenarnya sudah kami tawarkan tambak-tambak dijadikan mangrove dan tetap jadi hak milik warga, bila ada kepiting dan udang ya itu haknya. Tapi ya karena mungkin biasa dapat banyak, mereka tidak ikhlas.”, terang mas Nadhif.

Pertanyaan terakhir ¬†menanyakan bagaimana mengolah air tanah. “Itu kan maunya kita saja. Demak sumber air sudah banyak, sungai bila untuk kebutuhan industri juga cukup. Harusnya ada peraturan yang mengatur industri diwajibkan membeli air PDAM, boleh mendirikan di Demak tapi jangan merusak. Karena gajimu tidak akan cukup untuk mengembalikan kondisi lingkungan.” tegas mas Nadhif.

“Kita tidak bisa berharap kepada siapapun. Kita tidak kuasa. Yang bisa kita lakukan adalah membangun kesadaran sambil terus berdoa.” tutup mas Nadhif. [Ajib Zakaria/ Redaksi Kalijagan.com]

Avatar photo
Majlis Masyarakat Maiyah Kalijagan Demak adalah bagian dari Majlis Masyarakat Maiyah Nusantara.