Majlis Maiyah Telatah Demak

Air dan Keseimbangannya

Reportase Majlis Maiyah Kalijagan edisi Jum’at Pon, 9 April 2018/ 21 Jumadil Akhir 1439 | Demakiyah: Sinau Miline Banyu | bagian pertama

 

Kalijagan bulan ini dihadiri tamu langit lagi. Seperti bulan lalu, cuaca sore hari yang cerah lalu berganti mendung saat malam tiba. Diawali dengan sholawatan oleh kelompok rebana kang Ahyar, Tanbihun. Saat bermunajat yang dipimpin oleh kang Haq, gerimis sudah begitu mesranya menerpa wajah kami. Usai bermunajat, mas Arafat menyampaikan prolog, dan dengan pasti bulir air semakin bertambah banyak menimpa tubuh kami. Sangat pas dengan tema bulan ini “Sinau Miline Banyu”, air hujan benar mengalir menemani sinau kami.

Sesuai dengan tema malam ini tentang lingkungan, pembicara yang hadir adalah yang ahli di bidangnya. Seperti, mas Nadhif Alawi yang sangat memperhatikan lingkungan khususnya di Demak. Mas Apri Susanto dan mas Budi Priyanto dari Wetland International. Mas Ali Mahfudz dari Oisca Japan dan mas Muhammad Fahruddin warga Bedono, desa yang selalu banjir oleh air rob.

Mas Nadhif memulai dengan membacakan satu ayat Q.S Fathir (9). Kemudian beliau sedikit menyinggung soal hujan. “Hujan jangan ditolak, kita nikmati tak perlu harus berbasah-basah, tetap dinikmati meskipun sedikit basah”. kata beliau.

Mas Nadhif menguraikan bahwa sekarang ini manusia berusaha menata lingkungannya (termasuk kondisi air), “Padahal sesungguhnya Allah telah menciptakan alam ini sudah penuh keseimbangan. Mungkin saja bulan sekarang masih banyak hujan adalah bentuk alam menjaga keseimbangan oleh dampak pemanasan global. Jadi usaha menata lingkungan sesungguhnya terlalu sok. Jangan-jangan usaha kita menata lingkungan malah merusak karena menggangu keseimbangan”, kata mas Nadhif.

Saat hujan turun cukup deras jama’ah sudah pindah ke serambi gedung MUI, duduk berimpitan karena bulan ini yang datang lebih banyak dari bulan kemarin.

photo: Labeb

“Kita bangun jalan dan got yang dimaksud menolak hujan yang mana air tidak bisa meresap ke dalam tanah, kita hasilkan sampah yang menumpuk disungai, kita perlebar jalan, lalu ingin air langsung mengalir sampai laut, padahal jika air sampai laut kita tidak bisa mengolahnya dengan mudah, seperti itu yang namanya menata lingkungan”, lanjut mas Nadhif. Beliau menceritakan bahwa saat ini di Demak sulit untuk menemukan sumber air tanah yang tidak asin, meskipun daerah tersebut jauh dari pantai. Bahkan di beberapa daerah kadar keasinan airnya sama dengan air payau di muara sungai.

Sementara itu suasana kian mesra ditengah rintik hujan yang mengalun deras, meskipun ada beberapa jama’ah harus di luar pagar tidak bisa duduk. Semoga mereka bisa ikhlas dan menikmati berkah Allah melalui percikan air hujan bulan Maret ini.[Ajib Zakaria/ Redaksi Kalijagan.com]

Avatar photo
Majlis Masyarakat Maiyah Kalijagan Demak adalah bagian dari Majlis Masyarakat Maiyah Nusantara.
  • Kum