Pancasona: Perjalanan Menemukan Hati Sejati
Pancasona tidak asing dalam dunia pewayangan Jawa. Ia dikenal sebagai ajian yang membuat seseorang luput ing pati, tidak dapat mati selama tubuhnya masih menyentuh tanah.
Ajian ini paling terkenal dimiliki oleh Werkudara atau Bima. Dalam berbagai lakon, selama tubuhnya tetap bersentuhan dengan bumi, ia memperoleh kembali kekuatan hidupnya. Tokoh-tokoh lain seperti Subali atau Rahwana juga dalam beberapa versi pedalangan dikisahkan memiliki kemampuan serupa.
Namun jika dibaca secara simbolik, Pancasona sesungguhnya tidak sedang berbicara tentang kesaktian tubuh.
Ia sedang berbicara tentang hubungan manusia dengan asal kehidupannya.
Dalam hampir semua kisah wayang, kekuatan Pancasona bekerja selama tokohnya masih bisa menyentuh bumi. Bumi menjadi sumber kekuatan, sekaligus pengingat akan asal penciptaan manusia.
Bumi, dalam perspektif ini, bukan sekadar tanah. Ia adalah lambang asal kehidupan.
Karena itu, Pancasona dapat dimaknai sebagai simbol bahwa manusia akan tetap hidup selama ia tidak tercerabut dari asalnya. Yang benar-benar mati bukanlah tubuh yang berhenti bernapas, melainkan hati yang terputus dari sumber kehidupannya. Pembacaan ini sangat selaras dengan arah perjalanan manusia menuju asal kehidupan, yakni Allah sebagai Sang Pemilik Asal.
Semakin dekat manusia kepada asalnya, semakin hidup ruhnya.
Dengan demikian, Pancasona menurut pemikiran ini dapat dipahami sebagai kehidupan yang terus diperbarui karena manusia terus kembali kepada sumber kehidupannya. Setiap kali ego runtuh, ruh bangkit. Setiap kali nafsu ditaklukkan, cahaya kembali menyala. Setiap kali dunia mematahkan dirinya, Allah menghidupkannya kembali. Bagaimana dengan Suluk Linglung menjelaskan tentang Pancasona? Apakah seperti itu? Ikuti Kalijagan edisi Oktober 2026.







