Majlis Maiyah Telatah Demak

Zaman Yang Gelisah

Sampai saat ini, kehidupan kita masih di hadapkan dengan kompleksitas masalah yang semakin rumit. Dan ditelikung oleh kecemasan keadaan zaman yang menggelisahkan. Celotehan yang tidak jelas dan kata-kata yang tumpang tindih, kemarahan, caci maki, sumpah serapah, hoaks berhamburan, bising, simpang siur, gemuruh berebut citra diri dan pelampiasan segala hasrat untuk kenikmatan diri, perampasan hak milik orang lain, pemaksaan kehendak, menggali popularitas, pencitraan diri untuk kekuasaan dan pamer kekuatan merupakan kebiasaan yang lumrah kita temui.

Keseimbangan ruang kehidupan sosial kita, termasuk media sosialnya juga terdampak mengalami gangguan yang begitu mencemaskan. Didalam situasi dimana tidak sedikit dari golongan kita yaitu, manusia: Berlomba-lomba membesarkan diri sendiri dengan mengecilkan orang lain. Semua ini merupakan realitas-realitas kehidupan yang terus bergerak begitu bebas bahkan liar dalam siklus-siklus kehidupan yang entah sampai kapan akan berakhir. Inilah keadaan zaman yang gelisah. Kita dihadapkan dengan dunia yang sarat dengan paradoks, ambigu dan ambivalen.

Bila kita cermati, kekacauan pergaulan hidup kita di dalam dunia nyata maupun di dunia maya, diantaranya disebabkan oleh banyaknya orang-orang yang terlalu fanatik terhadap diri sendiri. Bila mempunyai pendapat, keyakinan, kehendak atau kemauan, merasa pendapat, keyakinan, kehendak atau kemauannya itu yang paling benar sendiri. Dan seringkali, sikap ini malah berlanjut dengan meremehkan dan menghina pendapat, keyakinan, kehendak atau kemauan orang yang berbeda dengannya. Bahkan, tidak jarang kita melihat orang yang dengan semangat menggebu-gebu, ingin memaksakan kebenarannya kepada orang lain. Padahal setiap orang memiliki kehendak bebas sesuai dengan pendapat, keyakinan dan kemauannya yang ia anggap benar. Jika dipaksakan, maka akan terjadi relasi antar manusia dalam konflik yang berkepanjangan. Kalau dibiarkan berlarut-larut, akan sangat mungkin melahirkan dunia yang kacau. Sebab Manusia menjadi makhluk yang saling memangsa satu sama lainnya, demi ambisi dan hasrat ego pribadinya.

Sekarang ini, paradoks kegelisahan manusia itu begitu nyata kita rasakan, menyeruak di setiap ruang kehidupan. Dan dalam kondisi itu Tuhan selalu saja menjadi senjata paling ampuh untuk mengalahkan dan menindas yang lain. Pada saat yang sama agama menjadi sumber kenikmatan dan tempat bersembunyi yang paling aman dan nyaman dari kekalahan dan ketertindasan.

Wallahu a’lam

Pengasuh Markaz Tanbihun, Bomo, Getas, Wonosalam, Demak