Menjadi pegiat Maiyah Kalijagan pada dasarnya tidak berbeda dengan menjadi panitia pengajian kampung atau kegiatan sosial lainnya. Ada pembagian tugas dan tanggung jawab antar pegiat Maiyah agar kegiatan rutin sinau bareng dapat berjalan dengan baik dan sesuai rencana. Sekilas, hal ini tampak sederhana: tugas dibagi, masing-masing menjalankan peran, lalu acara berjalan. Namun, bagi yang menjalaninya, proses ini justru menjadi perjalanan panjang dalam belajar mengenali diri—penuh dinamika, gesekan, dan kelelahan.
Dalam praktiknya, pembagian tugas dan tanggung jawab sering kali tidak selalu sejalan dengan minat, bakat, atau kecenderungan pribadi. Tidak ada bayaran, waktu dan tenaga dikorbankan, pikiran tersita, bahkan materi pribadi ikut terpakai. Namun, tugas yang diterima kadang tetap terasa tidak sesuai dengan keinginan. Meski demikian, hingga hampir sembilan tahun berjalan, kita masih bertahan dan terus mengupayakannya—dan insyaallah akan terus demikian. Pertanyaannya: demi apa semua ini dijalani?
Gesekan antar pegiat Maiyah adalah keniscayaan. Yang menentukan bukan ada atau tidaknya gesekan, melainkan cara menyikapinya. Jika gesekan dihadapi dengan su’udzon, maka yang muncul adalah sikap mencari pembenaran diri dan keinginan untuk menang sendiri. Akibatnya, tidak ada pelajaran yang diperoleh untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Su’udzon membuat seseorang berhenti belajar dan justru mengerdilkan dirinya. Sebaliknya, jika gesekan dikelola dengan husnudzon, perbedaan dapat menjadi keberkahan—melahirkan percikan ilmu sebagai bekal bertumbuh dan berkembang dalam proses mengenali serta memahami diri.
Pada dasarnya, setiap manusia mengenali dirinya sendiri: potensi, minat, bakat, dan kecenderungannya. Setiap orang berbeda. Ada yang dianugerahi kekuatan intelektual dan analisis, ada yang unggul dalam kerja-kerja teknis dan persiapan, ada yang menikmati menyiapkan kopi dan ubo rampe, ada pula yang terpanggil berbicara di atas panggung. Semua peran itu baik dan bernilai ibadah apabila diniatkan karena Allah serta membawa manfaat bagi sesama. Inilah wujud keunikan dan keberagaman manusia dalam menjalani tugas dan tanggung jawab sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Upaya mengenali dan menempatkan tugas serta tanggung jawab merupakan persoalan kita bersama. Pertanyaannya kemudian: apakah peran yang selama ini kita jalani sudah selaras dengan iradah-Nya, atau justru lebih mengikuti dorongan nafsu dan ego pribadi? Agar tidak terjadi benturan yang berujung pada perebutan peran, maka dalam bermaiyah kami berikhtiar untuk siap menjadi apa saja—dan siap pula untuk tidak menjadi apa-apa—demi membangun kebersamaan menuju Allah, Rasulullah, dan kemaslahatan kita semua.







