Forum diskusi Maiyah Kalijagan Demak genap berusia sembilan tahun pada Jumat, 13 Februari 2026. Momentum ini diperingati melalui kegiatan Sinau Bareng bertema Hidayat Djati sebagai bentuk rasa syukur sekaligus refleksi perjalanan forum dalam merawat ruang dialog Islam dan kebudayaan Jawa.
Kegiatan berlangsung pada Jumat, 13 Februari 2026 pukul 19.30–23.00 WIB di Pendopo Notobratan Kadilangu. Acara dihadiri jamaah dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, mahasiswa, pegiat kebudayaan, hingga masyarakat umum yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan forum.
Suasana kegiatan berlangsung khidmat sekaligus hangat. Pendopo yang didominasi material kayu menghadirkan nuansa tradisional yang kuat. Di bagian depan pendopo tampak foto Sunan Kalijaga yang mencolok dan menjadi pengingat historis sekaligus spiritual bagi jamaah yang hadir.
Kegiatan diawali dengan lantunan selawat yang diiringi rebana dari Pemuda Tanbihun Bomo Demak. Irama rebana dan selawat menghadirkan suasana teduh yang mengiringi jalannya forum sinau bareng. Jamaah juga disuguhi Caos Dhahar Lorogending, hidangan yang dikenal sebagai salah satu makanan kesukaan Sunan Kalijaga, sebagai simbol penghormatan terhadap nilai tradisi sekaligus pengikat kebersamaan jamaah.
Selama perjalanannya, Maiyah Kalijagan tidak berdiri sendiri. Forum ini terhubung dengan berbagai forum Maiyah di berbagai daerah di Indonesia yang sama-sama merawat tradisi sinau bareng. Dalam jejaring tersebut, sosok Emha Ainun Nadjib dikenal sebagai guru sekaligus orang tua yang menjadi rujukan nilai, arah kebudayaan, dan keteladanan dalam merawat ruang belajar bersama berbasis spiritualitas, kebudayaan, dan kemanusiaan.
Sejak berdiri sembilan tahun lalu, Maiyah Kalijagan konsisten menghadirkan ruang belajar bersama yang terbuka dan egaliter. Forum ini menjadi wadah bertemunya berbagai pandangan, pengalaman, dan gagasan dalam suasana dialog yang santai namun mendalam. Tradisi sinau bareng yang dikembangkan menempatkan seluruh peserta sebagai subjek pembelajaran, bukan sekadar pendengar.
Tema Hidayat Djati dalam forum ini mengangkat refleksi mengenai perjalanan batin manusia dalam menemukan petunjuk hidup melalui kejernihan hati dan kesadaran akan peran diri dalam kehidupan. Dalam pandangan kebudayaan Jawa, hidayat tidak hadir sebagai perintah yang keras, melainkan sebagai bisikan halus yang hanya dapat ditangkap oleh hati yang bersedia hening. Hidayat dipahami memiliki dua lapis makna, yakni kejernihan batin yang menuntun pilihan hidup serta kesadaran mendalam yang meneguhkan seseorang dalam menjalani perannya di kehidupan.
Pendalaman tema juga diperkaya dengan khazanah pemikiran yang berkembang dalam tradisi Maiyah mengenai keselarasan antara berpikir dan merasa. Proses tersebut dianalogikan seperti seduhan kopi. Ketika air panas dituangkan ke dalam bubuk kopi, terjadi gejolak yang menyerupai turbulensi emosi manusia, seperti ambisi, kemarahan, dan dorongan nafsu. Jika kopi diminum saat gejolak itu masih berlangsung, rasa yang muncul akan terlalu tajam dan ampasnya akan mengganggu kenikmatan.
Karena itu, dibutuhkan proses berhenti sejenak atau diam yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai menep, yakni membiarkan ampas emosi mengendap terlebih dahulu. Hidayat yang wening hanya dapat hadir ketika manusia bersedia menjalani proses tersebut. Ketika ampas emosi telah mengendap, kejernihan batin muncul dan memungkinkan seseorang mengambil keputusan dengan hikmah.
Nilai tersebut tercermin dalam berbagai praktik kehidupan sehari-hari, seperti sikap seorang guru yang memilih lebih banyak mendengar dibanding meluapkan kemarahan, atau seorang ayah yang menolak jalan pintas korupsi meskipun memiliki kesempatan dan tidak berada dalam pengawasan. Sikap menahan diri itu dipahami sebagai praktik puasa dalam makna yang lebih mendalam, yakni kemampuan mengekang keinginan instan demi menjaga nilai kebenaran dan tanggung jawab moral.
Refleksi tema juga menggambarkan figur petani sepuh sebagai simbol manusia yang telah mencapai kesadaran hidayat jati. Ia tidak mendefinisikan keberhasilan hidup berdasarkan ukuran material, jabatan, atau standar sosial yang ditentukan arus zaman. Ia memiliki kedaulatan penuh atas makna hidupnya sendiri karena memahami perannya sebagai khalifah pada ruang kehidupan yang dititipkan kepadanya.
Dalam perspektif tersebut, manusia modern sering kali kehilangan kedaulatan diri karena dikendalikan oleh tekanan pasar, tren sosial, dan kebutuhan pencitraan. Sebaliknya, manusia yang menemukan hidayat jati adalah manusia yang mampu menemukan koordinat hidupnya sendiri di hadapan Tuhan, sehingga tidak merasa rendah diri maupun terjebak dalam perlombaan makna hidup yang semu.
Peringatan sembilan tahun perjalanan forum menjadi momentum penting untuk menengok dinamika yang telah dilalui. Berbagai proses, tantangan, serta pengalaman kolektif selama hampir satu dekade menjadi bahan refleksi bersama untuk memperkuat langkah ke depan.
Selama sembilan tahun perjalanan, forum ini tentu tidak lepas dari berbagai dinamika. Namun bagi jamaah, perjalanan tersebut justru menjadi bagian dari proses pendewasaan bersama. Sebagaimana refleksi yang disampaikan dalam peringatan ulang tahun, selama sembilan tahun perjalanan ada kerikil, angin, hujan, dan panas. Semua itu bukan penghalang, melainkan teman untuk berzikir sekaligus berpikir dalam menapaki perjalanan kebersamaan.
Peringatan ulang tahun ke-9 diharapkan mampu memperkuat semangat kebersamaan jamaah sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam merawat tradisi sinau bareng. Forum ini diharapkan terus menjadi ruang perjumpaan gagasan, nilai, dan kebudayaan yang mencerahkan kehidupan masyarakat.







