Majlis Maiyah Telatah Demak

Asmara Branta

Asmara Branta adalah fase ketika cinta seorang hamba kepada Tuhannya mencapai puncak terdalam. Pada titik ini, cinta bukan lagi sekadar rasa, melainkan keberanian untuk menempuh jalan yang paling sunyi dan paling berat. Jalan yang menuntut pengorbanan, kesabaran, dan keteguhan, demi satu tujuan: keluhuran jiwa.

Dalam Asmara Branta, seorang pencari tidak lagi menimbang enak atau susah, apalagi untung dan rugi. Perintah guru sejati diterima tanpa tawar, dijalani tanpa syarat. Bahkan ketika perintah itu melampaui nalar manusia, melampaui batas kenyamanan dan kemampuan diri, ia tetap melangkah. Sebab cinta yang telah mencapai puncaknya tidak lagi bertanya mengapa, melainkan hanya berkata iya.

Cinta yang branta—cinta yang menyala sepenuhnya—tidak mengenal lelah, tidak berhenti oleh penderitaan, dan tidak tumbuh bersama kebanggaan. Di hadapannya, kesombongan runtuh dengan sendirinya. Yang tersisa hanyalah kerendahan hati dan ketundukan. Ia bertekuk lutut di hadapan Yang Dicintai, bukan karena merasa kalah, melainkan karena sadar: di sanalah kemuliaan sejati berada.

Dalam Asmara Branta, pasrah bukanlah kelemahan, tetapi kekuatan tertinggi. Menerima apa pun kehendak Yang Dicintai bukanlah kehilangan diri, melainkan menemukan diri yang paling hakiki. Sebab hanya cinta yang total—yang rela diperlakukan apa pun, yang ikhlas menerima apa pun—yang mampu mengangkat manusia dari batas kemanusiaannya menuju keluhuran spiritual.

Asmara Branta mengajarkan kita satu hal yang mendasar:

bahwa puncak perjalanan hidup bukanlah penguasaan, melainkan penyerahan; bukan kemenangan atas orang lain, melainkan tunduk sepenuhnya kepada Yang Maha Benar.

 

Majlis Masyarakat Maiyah Kalijagan Demak adalah bagian dari Majlis Masyarakat Maiyah Nusantara.