Majlis Maiyah Telatah Demak

Mukadimah DEKOLONIALISASI

Agustus telah berakhir dan kita mengangkah pada bulan September. Agustus mengajak kita untuk mengingat kemerdekaan, deklarasi dikumandangkan sebagai titik awal berjalannya perahu besar “Indonesia”.

Dekolonialisasi atau dekolonisasi tumbuh atas kesadaran bahwa kita pernah menjadi koloni sebuah negeri dalam rentang waktu yang panjang. Secara hukum kita memang masa pendudukan itu yang disebut dengan masa merdeka. Dengan demikian kita bisa menentukan nasib sendiri sebagai Negara-bangsa tanpa cawe-cawe negera lain. Apa yang diupayakan adalah untuk kepentingan rakyat Negara sendiri tidak seperti pada masa sebelumnya, kekayaan alam Hindia Belanda adalah pelampung bagi Negara Belanda.

Namun, pada kenyataannya sisa-sisa kolonialisasi itu masih ada pada alam bawah sadar kita. yang paling terlihat nyata adalah rasa percaya diri. Kita merasa lebih inverior terhadap orang-orang Barat. Contohnya adalah ketika ada turis dari Barat maka kita merasa berbangga jika berfoto dengan mereka. Sebutan-sebutan, Paris Van Java, Swis Van Java, juga menandakan bahwa kita tidak lebih baik dari mereka. Merasa rendah diri dan melihat orang lain lebih baik dari kita adalah dampak-dampak dari kolonialsme tersebut.

Mengupayakan dekolonialisme perlu dilakukan terus-menerus karena secara mental sisa-sisa kolonialisme itu masih ada. ia merupakan trauma yang berkepanjangan. Hal itu dapat dilakukan melalui film, karya sastra, dan berbagai forum. Karena kemenangan dimulai dari kemenangan mental terlebih dahulu.

Di Kenduri Cinta (02/2019) Mas Sabrang pernah bercerita tentang monyet. Ada sebuah eksperimen di sebuah ruang diisi oleh lima monyet. Ruangan itu diberi tangga dan pada ujung tangga terdapat pisang. Melalui tangga itu monyet bisa mengambil pisang. Setiap ada satu monyet yang naik untuk mengambil pisang maka empat monyet yang lain disemprot menggunakan air dingin. Secara bergantian monyet-monyet itu naik akibatnya yang lain tersiksa oleh air dingin. Akhirnya setiap ada monyet yang akan naik maka empat yang lain menghalangi dan memukuli. Satu persatu monyet dalam ruang itu diganti hingga seluruh monyet di ruang itu diganti. Sekarang monyet yang di dalam tidak ada yang pernah mengalami peristiwa setiap naik disemprot air dingin, tetapi budaya melarang monyet naik tangga untuk mengambil pisang masih berlanjut.

Apakah ada kaitan cerita Mas Sabrang dengan kasus yang kita bicarakan? Mari kita diskusikan di forum Kalijagan edisi September ini.

Majlis Masyarakat Maiyah Kalijagan Demak adalah bagian dari Majlis Masyarakat Maiyah Nusantara.